instagram.com/gigibandofficial
Perjalanan GIGI tidak lepas dari perubahan formasi. Setelah merilis album Dunia (1995), gitaris Aria Baron memutuskan keluar untuk melanjutkan pendidikan di Amerika. Keputusan ini membuat Dewa Budjana harus mengisi peran gitar sendirian.
Situasi semakin kompleks ketika Thomas Ramdhan hengkang pada 1996 akibat kecanduan putaw. Ronald Fristanto pun menyusul hengkang setelah mengalami konflik internal.
Dalam periode ini, GIGI sempat berada di titik terendah dengan hanya menyisakan Armand Maulana dan Budjana sebagai anggota aktif. Mereka bahkan sempat mempertimbangkan untuk membubarkan band sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan dengan formasi baru.
Masuknya Opet Alatas (bass) dan Budhy Haryono (drum) membawa energi baru, terlihat dalam proses kreatif album 2x2 yang melibatkan musisi internasional seperti Billy Sheehan, Harry Kim, Arturo Velasco, dan Eric Marienthal.
Namun, dinamika belum berhenti. Opet memilih keluar setelah tur album Kilas Balik (1998), dan posisi bass akhirnya kembali diisi oleh Thomas yang telah pulih. Formasi ini kemudian menghasilkan album Baik (1999), yang menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan musik mereka.
Di sisi lain, kondisi Budhy (drummer) mulai menurun, terutama terlihat sejak proses rekaman album Salam Kedelapan. Situasi ini membuka jalan bagi Gusti Hendy untuk masuk sebagai drummer tambahan, sebelum akhirnya menjadi bagian tetap dalam band.
Kehadiran Hendy membawa pendekatan baru dalam ritme dan dinamika permainan, terutama saat GIGI merilis album Raihlah Kemenangan. Album ini kemudian dikenal sebagai salah satu pelopor album pop bernuansa religi di Indonesia. Mereka membawakan lagu-lagu seperti "Ketika Tangan dan Kaki Berkata", "Perdamaian", dan "I’Tiraf" dengan sentuhan elemen rock.