Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
9 Pengeluaran yang Sebaiknya Dihindari Kelas Menengah, Apa Saja?
Freepik.com/Tirachardz

  • Ponsel flagship yang terlalu sering diganti

  • Liburan impulsif yang dibiayai utang

  • Renovasi dan gaya hidup demi citra sosial

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perubahan kondisi ekonomi dalam beberapa tahun terakhir memaksa kelas menengah untuk lebih jujur menilai kondisi keuangannya sendiri. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya hidup yang semakin mahal, serta ketidakpastian pendapatan membuat banyak keputusan belanja lama tidak lagi relevan. Pengeluaran yang dulu terasa wajar kini justru bisa menjadi sumber tekanan finansial jangka panjang.

Dalam situasi ini, menjaga kestabilan keuangan bukan hanya soal menambah penghasilan, tetapi juga mengevaluasi pengeluaran yang sebaiknya dihindari. Sejumlah belanja rutin tanpa disadari bisa menggerus tabungan dan peluang investasi. Berikut sembilan pengeluaran yang perlu mulai dihindari oleh rumah tangga kelas menengah agar keuangan tetap sehat, Bela!

1. Ponsel flagship yang terlalu sering diganti

Thenamibian

Perbedaan kinerja antara ponsel flagship terbaru dan perangkat berusia dua hingga tiga tahun kini semakin tipis bagi pengguna umum. Aktivitas seperti bekerja, berkomunikasi, dan hiburan harian masih dapat dijalankan dengan baik tanpa harus selalu menggunakan perangkat terbaru.

Kebiasaan mengganti ponsel mahal setiap satu atau dua tahun membuat biaya tahunan membengkak tanpa manfaat sepadan. Padahal, penggantian baterai atau perawatan ringan sering kali cukup untuk memperpanjang usia pakai ponsel dan menjaga anggaran tetap sehat.

2. Mobil baru dengan harga tinggi

Stop & Park

Mobil baru masih sering dipandang sebagai simbol keberhasilan finansial. Namun, kendaraan merupakan aset yang nilainya langsung menyusut begitu keluar dari dealer. Ditambah dengan bunga kredit, pajak, dan asuransi, beban finansial kelas menengah bisa meningkat sejak awal pembelian.

Mobil bekas berusia beberapa tahun dengan kondisi terawat umumnya menawarkan fungsi transportasi yang sama dengan harga jauh lebih rendah. Pilihan ini memberikan ruang finansial lebih longgar untuk menabung dan berinvestasi.

3. Langganan digital yang menumpuk

Unity

Biaya langganan digital terlihat kecil jika dilihat secara terpisah. Namun, akumulasi berbagai layanan—mulai dari streaming, aplikasi produktivitas, hingga fitur premium, sering kali menciptakan kebocoran anggaran yang tidak disadari.

Masalahnya bukan satu langganan, melainkan kebiasaan membiarkan banyak layanan tetap aktif meski jarang digunakan. Strategi yang lebih efisien adalah menggunakan satu layanan dalam satu waktu dan menghentikannya ketika sudah tidak dibutuhkan.

4. Fast fashion dan barang murah berkualitas rendah

The Invading Sea

Harga murah sering menjadi daya tarik utama, tetapi kualitas rendah membuat barang cepat rusak dan harus sering diganti. Pola ini berlaku pada pakaian, peralatan rumah tangga, hingga furnitur.

Dalam jangka panjang, membeli barang murah justru meningkatkan total pengeluaran. Investasi pada barang yang lebih awet memang membutuhkan dana lebih besar di awal, tetapi memberikan biaya pemakaian yang lebih efisien dan berkelanjutan.

5. Makanan praktis dan siap saji berlebihan

The Economic Times

Produk makanan siap saji menawarkan kenyamanan, tetapi dengan harga yang jauh lebih mahal dibandingkan bahan mentah. Dalam kondisi harga pangan yang terus naik, kebiasaan ini menjadi sumber kebocoran anggaran rumah tangga.

Dengan perencanaan sederhana dan persiapan yang realistis, belanja bahan makanan dalam jumlah lebih besar dapat menekan pengeluaran tanpa harus mengorbankan kualitas konsumsi maupun waktu secara berlebihan.

6. Garansi tambahan yang manfaatnya terbatas

Friends Legal

Garansi tambahan sering ditawarkan saat membeli barang elektronik dengan iming-iming perlindungan ekstra. Namun, biaya yang dibayarkan kerap mendekati biaya perbaikan itu sendiri.

Sebagian besar barang berfungsi normal tanpa pernah memanfaatkan garansi tambahan. Menyisihkan dana khusus untuk perbaikan sering kali menjadi pilihan yang lebih fleksibel dan efisien bagi kelas menengah.

7. Membeli rumah terlalu besar

Zillow

Membeli rumah dengan ukuran maksimal sesuai kemampuan finansial berisiko membuat keluarga kekurangan ruang gerak keuangan. Biaya perawatan, utilitas, dan pajak dapat menyedot pendapatan bulanan secara signifikan.

Kondisi “house-poor” ini membuat aset terlihat besar, tetapi likuiditas sangat terbatas. Hunian yang lebih efisien memungkinkan pengeluaran rutin terkendali dan membuka ruang untuk membangun ketahanan finansial jangka panjang.

8. Liburan impulsif yang dibiayai utang

E! News

Liburan sering dianggap sebagai kebutuhan untuk menjaga keseimbangan hidup. Namun, perjalanan yang direncanakan secara impulsif dan dibiayai dengan cicilan atau kartu kredit berpotensi meninggalkan beban finansial setelah liburan berakhir.

Bagi kelas menengah, biaya liburan seharusnya direncanakan dan disesuaikan dengan kondisi keuangan. Liburan yang sederhana tetapi terencana jauh lebih sehat dibandingkan perjalanan mahal yang meninggalkan utang berkepanjangan.

9. Renovasi dan gaya hidup demi citra sosial

Bankrate

Renovasi rumah berlebihan atau pengeluaran besar demi mengikuti standar sosial sering kali tidak memberikan nilai finansial yang sebanding. Dorongan untuk terlihat mapan dapat membuat pengeluaran melampaui kebutuhan nyata.

Ketika keputusan belanja didorong oleh citra, bukan fungsi, stabilitas keuangan menjadi taruhannya. Menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan finansial justru memberikan ketenangan dan fleksibilitas jangka panjang. Kebiasaan belanja kelas menengah yang dulu terasa aman kini perlu ditinjau ulang. Tidak semua pengeluaran yang terlihat wajar benar-benar mendukung stabilitas keuangan.

Dengan lebih selektif terhadap apa yang dibeli dan memahami biaya jangka panjang di balik setiap keputusan, kelas menengah dapat menjaga kesehatan finansial dan membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat di tengah tantangan yang terus berubah, Bela!

Editorial Team