Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Daftar Beasiswa Luar Negeri Tanpa Kewajiban Pulang ke Indonesia, Apa Saja?
Ilustrasi kuliah di luar negeri. (pexels.com/George Pak)
  • Perdebatan muncul setelah video awardee LPDP viral, memicu pembahasan soal kewajiban penerima beasiswa untuk kembali ke Indonesia dan kontribusi pascastudi.
  • Banyak calon mahasiswa kini mencari alternatif beasiswa luar negeri tanpa syarat pulang, agar bisa membangun karier global setelah lulus.
  • Terdapat berbagai pilihan beasiswa internasional seperti CGS, DAAD, Erasmus Mundus, Gates Cambridge, hingga Türkiye Bursları yang menawarkan pendanaan penuh tanpa kewajiban kembali ke Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Perbincangan publik mengenai daftar beasiswa luar negeri yang tidak mewajibkan penerimanya kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi, di tengah sorotan terhadap aturan kewajiban pulang bagi alumni LPDP.
  • Who?
    Beberapa lembaga penyedia beasiswa internasional seperti China Scholarship Council, DAAD Jerman, Erasmus Mundus, Gates Cambridge, GKS Korea, serta penerima dan calon pelamar asal Indonesia.
  • Where?
    Program-program beasiswa berlangsung di berbagai negara termasuk Tiongkok, Jerman, Inggris, Korea Selatan, Malaysia, Italia, Jepang, Taiwan, Rumania, Hungaria, dan Turki.
  • When?
    Pembahasan meningkat belakangan ini setelah munculnya video seorang alumni LPDP di media sosial; program beasiswa tersebut telah berjalan sejak beberapa tahun terakhir hingga saat ini.
  • Why?
    Banyak calon mahasiswa mencari alternatif beasiswa luar negeri tanpa kewajiban pulang karena ingin membangun karier global serta menyesuaikan dengan ketentuan pendanaan masing-masing program.
  • How?
    Masing-masing program menawarkan pembiayaan penuh mencakup biaya kuliah, tunjangan hidup bulanan, asuransi kesehatan, tiket perjalanan internasional, dan fasilitas tambahan sesuai kebijakan lembaga penyelenggara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Netizen belakangan ini ramai membicarakan konten video seorang awardee LPDP yang memperlihatkan anaknya telah berstatus warga negara asing, lengkap dengan paspor barunya. Fakta bahwa pemilik akun tersebut merupakan alumni beasiswa LPDP memantik pro dan kontra.

Sebagaimana diketahui, LPDP memang menetapkan kewajiban bagi penerimanya untuk kembali ke Indonesia paling lambat 90 hari setelah dinyatakan lulus, kecuali ada penundaan yang disetujui. Alumninya juga diwajibkan berkontribusi di Indonesia dengan durasi dua kali masa studi ditambah satu tahun.

Perbincangan tersebut mengacu pada aturan yang dipahami sebagai bentuk tanggung jawab atas dana publik. Aturan ini membuat banyak calon mahasiswa mulai mencari alternatif beasiswa luar negeri yang tidak mencantumkan kewajiban pulang ke negara asal.

Bagi kamu yang memang berencana membangun karier global setelah lulus, berikut daftar beasiswa luar negeri yang berdasarkan ketentuan resminya tidak memuat kewajiban kembali ke Indonesia.

1. China Government Scholarship

ilustrasi mahasiswa (pexels.com/Charlotte May)

Berdiri pada 1997 dan dikelola oleh China Scholarship Council di bawah Kementerian Pendidikan Tiongkok, CGS termasuk salah satu program beasiswa nasional terbesar di dunia. Setiap tahun, ribuan mahasiswa dari lebih 180 negara datang ke berbagai universitas di Tiongkok melalui skema ini.

Programnya terbuka untuk jenjang sarjana, magister, doktoral, hingga riset non-gelar. Jalur pendaftarannya beragam, bisa melalui kedutaan besar atau langsung ke universitas, tergantung skema bilateral atau universitas yang dipilih.

Cakupannya meliputi biaya kuliah penuh, asrama kampus atau subsidi hunian, tunjangan hidup bulanan sesuai jenjang, serta asuransi kesehatan komprehensif. Mahasiswa doktoral dan peneliti senior bahkan memperoleh tunjangan lebih tinggi. Dengan posisi Tiongkok sebagai kekuatan global di bidang teknologi, manufaktur, dan riset, CGS kerap menjadi jalur strategis untuk membangun jejaring profesional di Asia Timur.

2. DAAD Jerman

potret ilustrasi berkuliah di luar negeri (pexels.com/Andrea Piacquadio)

DAAD dikenal sebagai lembaga pertukaran akademik terbesar di dunia. Untuk pelamar Indonesia, salah satu skema populernya adalah EPOS (Development-Related Postgraduate Courses) yang berfokus pada pembangunan dan penguatan kapasitas profesional dari negara berkembang.

Beasiswa ini menanggung biaya kuliah, tunjangan hidup bulanan dalam euro, asuransi kesehatan, tiket perjalanan internasional, serta kursus bahasa sebelum perkuliahan dimulai. Seleksinya pun mempertimbangkan prestasi akademik dan pengalaman kerja relevan.

Jerman memiliki ekosistem riset dan industri kuat, terutama di bidang teknik, energi, dan kebijakan publik. Banyak alumni DAAD yang kemudian bekerja di Eropa atau melanjutkan karier internasional tanpa terikat kewajiban kembali ke negara asal.

3. Erasmus Mundus Joint Masters

ilustrasi kuliah di luar negeri (pexels.com/Keira Burton)

Bagi yang ingin merasakan pengalaman belajar lintas negara dalam satu program, Erasmus Mundus Joint Masters bisa menjadi pilihan. Dibiayai Uni Eropa dalam kerangka Erasmus+, program ini menggabungkan minimal tiga universitas dari negara berbeda dalam satu kurikulum terpadu.

Mahasiswa akan belajar di setidaknya dua negara selama satu hingga dua tahun, dan memperoleh joint degree atau multiple degree yang diakui masing-masing universitas. Biaya kuliah penuh, tunjangan hidup bulanan, asuransi, dan biaya perjalanan antarnegara termasuk dalam paket beasiswa.

Sejak periode 2021–2027, Erasmus Mundus juga menekankan isu keberlanjutan, inklusi, dan transformasi digital, menjadikannya relevan dengan tantangan global masa kini.

4. Gates Cambridge Scholarship

ilustrasi kuliah di luar negeri. (123rf.com/vadimgozhda)

Berdiri pada tahun 2000 melalui donasi besar dari Gates Foundation, beasiswa ini mendukung mahasiswa internasional yang diterima di program pascasarjana penuh waktu University of Cambridge. Sekitar 80 beasiswa penuh diberikan setiap tahun. Pendanaannya mencakup biaya kuliah, tunjangan hidup sekitar £21.000 per tahun, tiket pesawat pulang pergi, visa, serta dukungan tambahan untuk riset atau konferensi.

Seleksinya sangat kompetitif dan menilai dari kemampuan akademik, potensi kepemimpinan, serta komitmen memberi dampak sosial. Komunitas Gates Cambridge membentuk jejaring global yang kini beranggotakan ribuan alumni di bidang akademik, kebijakan publik, dan kesehatan global.

5. Global Korea Scholarship

Ilustrasi kuliah di luar negeri (Pexels.com/Mikhail Nilov)

Dikelola oleh National Institute for International Education (NIEED), GKS menawarkan beasiswa penuh untuk jenjang sarjana hingga doktoral. Mayoritas penerima mengikuti satu tahun pelatihan bahasa Korea sebelum memasuki program utama.

Cakupannya meliputi biaya kuliah penuh, tunjangan hidup bulanan, tiket pesawat pulang pergi, tunjangan kedatangan, hibah penyelesaian studi, serta asuransi kesehatan. Dengan reputasi Korea Selatan dalam teknologi, hiburan, dan industri kreatif, GKS menjadi jembatan menarik bagi mahasiswa yang ingin memahami ekosistem Asia Timur lebih dekat.

6. Malaysia International Scholarship

ilustrasi mahasiswa (unsplash.com/Kateryna Hliznitsova)

Diluncurkan pada 2010 oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia, MIS ditujukan untuk jenjang Master dan PhD. Beasiswa ini menanggung biaya kuliah penuh serta tunjangan hidup bulanan.

Universitas tujuan mencakup institusi terkemuka seperti University of Malaya dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Dengan lingkungan multikultural dan biaya hidup yang relatif kompetitif, Malaysia menjadi pilihan realistis bagi mahasiswa Indonesia yang ingin pengalaman internasional tanpa jarak terlalu jauh.

7. MAECI Italia

Ilustrasi mahasiswa sedang presentasi (pexels.com/Kampus Production)

MAECI merupakan program beasiswa dari Kementerian Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Italia. Tujuannya memperkuat kolaborasi budaya dan ilmiah serta mempromosikan bahasa Italia.

Beasiswa ini tersedia untuk jenjang S2, S3, dan riset. Pendanaan mencakup bantuan biaya kuliah di universitas tertentu, asuransi kesehatan, dan tunjangan hidup tahunan yang dibayarkan bertahap. Italia menawarkan kekuatan akademik di bidang seni, desain, arsitektur, hingga sains terapan dengan latar budaya yang kaya.

8. MEXT Scholarship

ilustrasi mahasiswa Jepang yang sedang belajar (pexels.com/Gu Ko)

Beasiswa pemerintah Jepang ini tersedia untuk berbagai jalur mulai dari sarjana, research student, hingga doktoral. Pendanaannya meliputi biaya kuliah penuh, tunjangan hidup bulanan, tiket pesawat pulang pergi, serta kursus bahasa Jepang bila diperlukan.

Jepang memiliki investasi besar dalam riset dan inovasi, didukung lembaga seperti JSPS (Japan Society for the Promotion of Science) dan JST (Japan Science and Technology Agency). Lingkungan akademiknya dikenal disiplin dan berorientasi pada pengembangan teknologi mutakhir.

9. MOE Taiwan Scholarship

Ilustrasi mahasiswa (pexels.com/George Pak)

MOE Taiwan Scholarship mendukung studi S1, S2, dan PhD di universitas Taiwan. Beasiswa ini menanggung biaya kuliah hingga NTD40.000 per semester, serta tunjangan hidup bulanan sekitar NTD15.000 untuk sarjana dan NTD20.000 untuk magister serta doktoral.

Program ini juga tersedia dalam bahasa Mandarin maupun Inggris. Taiwan dikenal sebagai pusat industri semikonduktor dan teknologi tinggi, sehingga peluang kolaborasi riset dan koneksi industri terbuka luas bagi mahasiswa internasional.

10. Romanian Government Scholarship

Ilustrasi mahasiswa (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Beasiswa ini diperuntukkan bagi warga non Uni Eropa untuk jenjang S1, S2, dan S3, kecuali bidang kedokteran dan farmasi. Mahasiswa sarjana dan magister mengikuti satu tahun persiapan bahasa Rumania sebelum studi utama.

Cakupan meliputi pembebasan biaya kuliah, tunjangan hidup bulanan, serta asrama kampus jika tersedia. Rumania menawarkan pengalaman belajar di Eropa Timur dengan biaya hidup yang relatif terjangkau.

11. Stipendium Hungaricum

Ilustrasi mahasiswa berdiskusi di lingkungan kampus. (Foto: Unsplash)

Diluncurkan pada 2013, program ini menawarkan beasiswa penuh untuk jenjang sarjana hingga doktoral. Pendanaannya juga mencakup biaya kuliah, tunjangan hidup bulanan, akomodasi atau subsidi perumahan, serta asuransi kesehatan.

Hungaria menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi di Eropa Tengah dengan jaringan internasional yang terus berkembang. Setelah lulus, mahasiswa dapat mengeksplorasi peluang profesional di kawasan Uni Eropa tanpa kewajiban pulang.

12. Türkiye Bursları

Ilustrasi mahasiswa (pexels.com/Ahmed)

Sejak 2012, Türkiye Bursları menjadi program beasiswa nasional Turki yang menerima ribuan mahasiswa setiap tahun dari lebih 170 negara. Cakupannya meliputi biaya kuliah penuh, tunjangan hidup bulanan, akomodasi, asuransi kesehatan, kursus bahasa Turki, serta tiket pesawat pulang pergi.

Seleksinya pun melalui tahap evaluasi akademik dan wawancara. Program ini dikenal sebagai salah satu skema beasiswa pemerintah paling komprehensif di dunia dengan jaringan alumni global yang kuat.

Setiap beasiswa memiliki karakter, budaya akademik, serta peluang karier yang berbeda. Dengan tidak adanya kewajiban pulang ke Tanah Air, kamu dapat lebih leluasa merancang masa depan global sesuai minat dan rencana jangka panjang.

Dari daftar di atas, adakah yang paling sesuai dengan rencana kariermu di masa depan?

Editorial Team

EditorAyu Utami