Belajar seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bukan sekadar rutinitas yang harus dijalani. Namun, bagi sebagian anak, terutama mereka yang tumbuh tanpa kehadiran orang tua, proses belajar sering kali diwarnai keterbatasan fasilitas dan minimnya dukungan emosional. Di tengah tantangan itu, upaya menciptakan ruang belajar yang lebih hangat dan inklusif menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda.
Sepanjang 2025, isu kesenjangan akses pendidikan kembali menjadi sorotan, terutama bagi anak-anak yatim piatu di berbagai daerah. Bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga tentang bagaimana proses belajar dapat membangkitkan semangat, rasa ingin tahu, dan kepercayaan diri anak. Di sinilah pendekatan belajar yang menyenangkan, atau yang sering dikenal dengan playful learning, mulai menemukan relevansinya.
Bagaimana proses belajar itu berjalan? Simak selengkapnya berikut ini.
