Nggak cuma laut, spesialisasi yang berkaitan dengan penerbangan dan ruang angkasa ini juga sepi peminat. Spesialisasi tersebut fokus pada kesehatan individu yang bekerja atau bepergian di lingkungan penerbangan dan ruang angkasa.
Mereka mempelajari dampak ketinggian, tekanan udara rendah, dan kondisi gravitasi terhadap tubuh manusia. Dalam dunia penerbangan, mereka memastikan kesehatan para pilot dan kru maskapai, termasuk kelayakan fisik untuk terbang.
Di sektor eksplorasi ruang angkasa, para dokter spesialis ini merancang program kesehatan untuk astronot, termasuk adaptasi tubuh terhadap gravitasi nol. Meskipun terdengar futuristik, spesialisasi ini berperan penting di era modern, terutama dengan meningkatnya eksplorasi ruang angkasa. Hanya saja, tantangannya melibatkan pengembangan solusi untuk kondisi medis dalam lingkungan ekstrem, yang jarang dihadapi dokter lainnya.
Spesialis ini jarang dilirik karena lembaga pendidikan yang terbatas, pertimbangan orientasi penempatan kerja, hingga kesadaran masyarakat yang masih minim. Kedokteran Penerbangan dan Ruang Angkasa di Indonesia, didukung oleh institusi seperti Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa (Lakespra) dr. Saryanto milik TNI-AU serta Program Studi Spesialis Kedokteran Penerbangan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).