Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
10 Skill yang Dicari Perusahaan di Era AI, Bukan Cuma Jago Teknologi!
Skill Yang Dicari Perusahaan di Era AI (Dok. unsplash.com/Andrea De Santis)
  • Perusahaan mencari kandidat yang mampu memakai AI secara efektif, menyusun prompt jelas, mengintegrasikannya ke alur kerja, serta tetap memeriksa kualitas hasil.

  • Literasi data, pemrograman dan machine learning dibutuhkan sesuai peran, sementara etika, privasi, keamanan, serta verifikasi informasi AI menjadi tanggung jawab lintas fungsi.

  • Keunggulan profesional tetap ditentukan kemampuan manusia: berpikir kritis, memecahkan masalah kompleks, adaptif, kecerdasan emosional, kolaborasi, dan komunikasi untuk menerjemahkan hasil AI menjadi tindakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara perusahaan menjalankan bisnis dan merekrut karyawan. Berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini bisa diselesaikan lebih cepat dengan bantuan AI, mulai dari mengolah data, membuat konten, hingga membantu proses pemrograman.

Namun, perubahan ini bukan berarti manusia tidak lagi dibutuhkan di dunia kerja. Justru, perusahaan semakin membutuhkan kandidat yang mampu memanfaatkan teknologi sekaligus memiliki kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah secara mandiri.

Artinya, menguasai satu aplikasi AI saja belum tentu cukup untuk membuatmu unggul di tengah persaingan kerja. Kamu juga perlu memahami cara menggunakannya secara efektif, memeriksa hasilnya, dan menerjemahkan informasi menjadi solusi yang bermanfaat bagi perusahaan. Lantas, apa saja skill yang dicari perusahaan di era AI? Berikut deretan skill yang bisa kamu latih untuk masuk ke dunia kerja saat ini!

1. Kemampuan menggunakan AI dan menyusun prompt

Skill Yang Dicari Perusahaan di Era AI (Dok. unsplash.com/Milad Fakurian)

Salah satu kemampuan yang semakin relevan adalah memahami cara menggunakan AI untuk membantu menyelesaikan pekerjaan. Kemampuan ini bukan sekadar mengetahui cara membuka ChatGPT, Claude, atau Gemini, melainkan juga memahami bagaimana memberikan instruksi yang jelas agar hasilnya sesuai kebutuhan.

Keterampilan menyusun instruksi kepada AI dikenal sebagai prompting. Semakin spesifik konteks, tujuan, batasan, dan format yang diberikan, semakin mudah AI menghasilkan jawaban yang relevan. Misalnya, daripada hanya meminta AI membuat artikel, kamu bisa menjelaskan target pembaca, kata kunci SEO, gaya bahasa, struktur tulisan, dan informasi yang harus diverifikasi.

Kemampuan ini berguna di berbagai bidang, mulai dari pemasaran, administrasi, layanan pelanggan, hingga pengembangan perangkat lunak. Kandidat yang mampu menggunakan AI secara efektif dapat membantu mempercepat pekerjaan tanpa mengabaikan kualitas hasil akhirnya.

Meski begitu, prompt engineering bukan berarti sekadar menghafal rumus instruksi. Kamu tetap perlu memahami pekerjaan yang sedang dilakukan agar dapat menilai apakah hasil AI benar-benar sesuai kebutuhan.

2. Literasi data dan analisis data

Skill Yang Dicari Perusahaan di Era AI (Dok. unsplash.com/Growtika)

Di era AI, data menjadi salah satu sumber penting untuk menentukan strategi bisnis. Karena itu, perusahaan membutuhkan karyawan yang tidak hanya mampu mengumpulkan informasi, tetapi juga membaca pola, menemukan masalah, dan menarik kesimpulan berdasarkan data tersebut. Kemampuan ini dikenal sebagai literasi data atau data literacy. Contohnya, seorang staf pemasaran tidak cukup hanya mengetahui jumlah pengunjung situs web. Ia juga perlu memahami halaman mana yang paling banyak dikunjungi, dari mana pengunjung berasal, dan konten seperti apa yang menghasilkan konversi.

AI dapat membantu merangkum data atau menemukan pola tertentu. Namun, manusia tetap perlu menilai apakah kesimpulan tersebut masuk akal dan relevan dengan tujuan bisnis. Kamu bisa mulai mengembangkan kemampuan ini melalui Excel atau Google Sheets, kemudian mempelajari alat analisis yang sesuai dengan bidang pekerjaanmu. Untuk pemasaran digital, misalnya, Google Analytics dan Google Search Console dapat membantu memahami performa konten serta perilaku pengunjung.

3. Kemampuan mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja

Skill Yang Dicari Perusahaan di Era AI (Dok. unsplash.com/Steve A Johnson)

Menggunakan AI untuk satu tugas memang membantu, tetapi kemampuan mengintegrasikannya ke dalam alur kerja sehari-hari bisa memberikan nilai tambah yang lebih besar. Keterampilan ini sering disebut AI-assisted working. Fokusnya adalah mengetahui bagian pekerjaan mana yang bisa dibantu AI, bagaimana menghemat waktu, dan kapan manusia perlu mengambil alih untuk memastikan hasilnya tetap berkualitas.

Seorang content writer, misalnya, bisa menggunakan AI untuk membantu menyusun ide, membuat kerangka tulisan, atau merangkum bahan riset. Setelah itu, penulis tetap perlu memeriksa fakta, menyunting tulisan, menyesuaikan gaya bahasa, dan memastikan konten memiliki nilai bagi pembaca.

Di bidang desain, AI bisa membantu eksplorasi konsep visual. Sementara itu, dalam pekerjaan administrasi, AI dapat dimanfaatkan untuk merangkum dokumen atau menyusun draf komunikasi. Perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang mengenal banyak alat AI, tetapi juga orang yang mampu menggunakannya untuk meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan ketelitian, keamanan data, dan kualitas pekerjaan.

4. Pemrograman dan machine learning

Skill Yang Dicari Perusahaan di Era AI (Dok. unsplash.com/Igor Omilaev)

Bagi kamu yang ingin berkarier di bidang teknologi, kemampuan pemrograman dan machine learning bisa menjadi modal penting. Perusahaan yang mengembangkan produk berbasis AI membutuhkan tenaga profesional yang mampu membangun, menguji, mengintegrasikan, serta memelihara sistem teknologi tersebut.

Beberapa bahasa pemrograman yang umum digunakan antara lain Python, R, dan Java. Python, misalnya, banyak dimanfaatkan untuk pengolahan data, otomatisasi, serta pengembangan model AI. Sementara itu, pemahaman tentang machine learning membantu seseorang mempelajari bagaimana sistem mengenali pola dari data dan menghasilkan prediksi.

Namun, kamu tidak harus langsung menjadi ahli AI untuk mulai mempelajari keterampilan teknis ini. Jika masih pemula, kamu bisa memulai dari dasar pemrograman, logika komputasi, dan pengolahan data sebelum mempelajari konsep yang lebih kompleks.

Perlu diingat, keterampilan ini cenderung lebih dibutuhkan untuk posisi tertentu di bidang teknologi dan pengembangan produk. Untuk profesi lainnya, kemampuan memahami serta memanfaatkan AI sesuai kebutuhan pekerjaan bisa menjadi langkah awal yang lebih relevan.

5. Pemahaman etika dan keamanan AI

Skill Yang Dicari Perusahaan di Era AI (Dok. unsplash.com/Milad Fakurian)

Kemampuan menggunakan AI juga perlu diimbangi dengan pemahaman tentang etika dan keamanan. Pasalnya, teknologi ini dapat menghasilkan informasi yang keliru, memperkuat bias tertentu, atau memproses informasi sensitif dengan cara yang tidak sesuai dengan kebijakan perusahaan.

Karena itu, perusahaan membutuhkan karyawan yang memahami prinsip Responsible AI, yaitu penggunaan AI secara bertanggung jawab dengan mempertimbangkan akurasi, privasi, keadilan, dan keamanan.

Contohnya, karyawan tidak boleh sembarangan memasukkan data pelanggan, informasi keuangan internal, atau dokumen rahasia perusahaan ke dalam layanan AI yang belum disetujui organisasi. Mereka juga perlu memeriksa apakah informasi yang dihasilkan AI memiliki sumber yang dapat dipercaya.

Pemahaman ini tidak hanya penting bagi tim teknologi. Staf pemasaran, HR, layanan pelanggan, dan pekerja administrasi pun perlu mengetahui batasan penggunaan AI dalam pekerjaan mereka.

Dengan keterampilan tersebut, kamu bisa menunjukkan bahwa kemampuan memanfaatkan teknologi tidak hanya diukur dari kecepatan bekerja, tetapi juga dari tanggung jawab dalam menggunakannya.

6. Berpikir kritis dan memverifikasi informasi

Skill Yang Dicari Perusahaan di Era AI (Dok. freepik.com/macrovector)

AI dapat menghasilkan jawaban dalam hitungan detik. Namun, jawaban yang terdengar meyakinkan belum tentu benar. Inilah alasan kemampuan berpikir kritis atau critical thinking tetap penting di tengah perkembangan teknologi.

Berpikir kritis berarti mampu mengevaluasi informasi, mempertanyakan asumsi, membandingkan sumber, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti yang tersedia. Keterampilan ini membantu kamu menghindari kesalahan ketika menggunakan hasil AI untuk pekerjaan.

Sebagai contoh, ketika AI memberikan data mengenai tren pasar, kamu perlu memeriksa sumber dan tanggal informasinya. Jika AI menyusun laporan atau rekomendasi, kamu juga perlu menilai apakah kesimpulannya sesuai dengan kondisi bisnis yang sebenarnya. Kemampuan ini sangat berguna dalam pekerjaan yang menuntut ketelitian, seperti jurnalistik, analisis bisnis, pemasaran digital, riset, hingga pengelolaan keuangan.

Alih-alih menerima semua hasil AI begitu saja, biasakan bertanya: "apakah informasi ini benar, apa buktinya, dan apakah ada sudut pandang lain yang perlu dipertimbangkan?"

7. Kemampuan beradaptasi dan belajar dengan cepat

Skill Yang Dicari Perusahaan di Era AI (Dok. unsplash.com/Poddar Group)

Perkembangan teknologi berlangsung dengan cepat. Alat yang populer saat ini bisa saja mengalami perubahan fitur atau digantikan oleh teknologi baru dalam beberapa tahun mendatang. Oleh karena itu, kemampuan beradaptasi atau adaptability menjadi salah satu keterampilan yang berharga di dunia kerja.

Karyawan yang adaptif tidak harus menguasai setiap teknologi yang muncul. Mereka perlu mampu mengenali perubahan yang relevan dengan pekerjaannya, mempelajari alat baru, dan menyesuaikan cara kerja ketika dibutuhkan.

Misalnya, ketika perusahaan mulai menggunakan sistem otomatisasi baru, karyawan yang bersedia belajar akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan perubahan proses kerja. Begitu pula ketika strategi bisnis berubah, mereka dapat mengevaluasi kembali prioritas dan mempelajari keterampilan yang diperlukan.

Kamu bisa melatih kemampuan ini dengan mengikuti pelatihan singkat, mencoba aplikasi baru yang relevan, atau mempelajari perkembangan industri secara berkala.

Selain itu, resilience atau ketangguhan juga penting. Tidak semua proses belajar berjalan mulus, tetapi kemampuan menghadapi kesulitan dan memperbaiki diri akan membantu kamu tetap berkembang di tengah perubahan.

8. Kemampuan memecahkan masalah kompleks

Skill Yang Dicari Perusahaan di Era AI (Dok. freepik.com/DC Studio)

AI dapat membantu menyelesaikan tugas teknis, tetapi memahami akar masalah dan menentukan solusi yang tepat tetap membutuhkan penilaian manusia. Karena itu, kemampuan problem solving menjadi salah satu keterampilan yang layak dikembangkan.

Kemampuan ini bukan hanya tentang menemukan jawaban secepat mungkin. Kamu perlu memahami persoalan secara menyeluruh, mengidentifikasi penyebabnya, mempertimbangkan berbagai alternatif, lalu memilih solusi berdasarkan tujuan dan kondisi yang ada.

Sebagai contoh, ketika penjualan sebuah produk menurun, kamu tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah konten promosi yang kurang menarik. Kamu perlu memeriksa faktor lain, seperti perubahan harga, perilaku konsumen, persaingan pasar, distribusi, atau kualitas produk.

AI bisa membantu mengolah data dan menawarkan beberapa kemungkinan penyebab. Namun, kamu tetap harus menentukan informasi mana yang relevan dan langkah apa yang paling masuk akal untuk dilakukan.

Keterampilan ini juga berkaitan dengan systems thinking, yaitu kemampuan melihat hubungan antara berbagai bagian dalam suatu sistem. Dengan cara berpikir tersebut, kamu tidak hanya memperbaiki gejala masalah, tetapi juga berusaha menemukan penyebab yang mendasarinya.

9. Kecerdasan emosional dan kemampuan bekerja sama

Skill Yang Dicari Perusahaan di Era AI (Dok. freepik.com/DC Studio)

Di tengah meningkatnya penggunaan AI, kemampuan memahami manusia justru tetap memiliki peran penting. Kecerdasan emosional atau emotional intelligence membantu seseorang mengenali emosi diri sendiri, memahami perasaan orang lain, dan merespons situasi dengan tepat.

Keterampilan ini dibutuhkan ketika bekerja dalam tim, menghadapi perbedaan pendapat, bernegosiasi, atau menangani pelanggan yang sedang kecewa. Dalam situasi seperti itu, memberikan jawaban yang benar saja belum tentu cukup. Cara menyampaikan informasi dan memahami kebutuhan lawan bicara juga memengaruhi hasil akhirnya.

Karyawan dengan kecerdasan emosional yang baik cenderung lebih mampu menerima masukan, mengelola konflik, dan membangun hubungan kerja yang sehat. Kemampuan tersebut juga penting bagi seorang pemimpin yang perlu menjaga motivasi tim sekaligus mengambil keputusan sulit.

AI memang dapat membantu menyusun pesan atau memberikan saran dalam situasi tertentu. Namun, memahami konteks sosial, membangun kepercayaan, dan mempertimbangkan dampak keputusan terhadap orang lain tetap membutuhkan keterlibatan manusia.

10. Komunikasi efektif

Skill Yang Dicari Perusahaan di Era AI (Dok. unsplash.com/Jakub Zerdzicki)

Kemampuan komunikasi menjadi salah satu soft skill yang tetap dibutuhkan di berbagai bidang pekerjaan. Ide yang bagus tidak akan memberikan dampak maksimal jika tidak bisa disampaikan dengan jelas kepada orang lain.

Komunikasi efektif mencakup kemampuan berbicara, menulis, mendengarkan, menyampaikan pendapat, serta menyesuaikan cara berkomunikasi dengan audiens. Dalam lingkungan kerja, keterampilan ini membantu koordinasi tim, presentasi ide, penyusunan laporan, hingga penyelesaian konflik.

Di era AI, komunikasi juga berhubungan dengan kemampuan memberikan instruksi yang terstruktur kepada sistem. Kamu perlu menjelaskan tujuan, konteks, batasan, dan hasil yang diharapkan agar AI bisa membantu pekerjaan secara lebih efektif.

Namun, kemampuan komunikasi tidak berhenti pada penyusunan instruksi. Kamu juga perlu menyampaikan hasil kerja AI kepada rekan tim atau atasan, menjelaskan alasan di balik rekomendasi, dan mempertanggungjawabkan keputusan yang diambil.

Misalnya, ketika AI membantu menganalisis data penjualan, kamu perlu mampu menerjemahkan hasil analisis tersebut menjadi penjelasan yang mudah dipahami oleh tim pemasaran maupun manajemen. Dengan begitu, informasi tidak hanya berhenti sebagai angka, tetapi bisa digunakan untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Perkembangan AI memang mengubah cara perusahaan bekerja, tetapi bukan berarti keterampilan manusia menjadi kurang penting. Sebaliknya, kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan beriringan dengan berpikir kritis, memecahkan masalah, beradaptasi, dan berkomunikasi secara efektif.

Jika ingin tetap relevan di dunia kerja, kamu tidak harus menjadi ahli AI dalam semalam. Mulailah dengan mempelajari teknologi yang sesuai dengan bidangmu, memahami batasannya, dan menggunakannya untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih baik.

Pada akhirnya, keunggulan seorang profesional bukan hanya terletak pada seberapa banyak alat AI yang dikuasai, melainkan juga pada bagaimana ia menggabungkan teknologi, pengetahuan, dan penilaian manusia untuk menghasilkan solusi yang benar-benar bermanfaat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article