Indonesia memang terkenal dengan kekayaan alamnya. Sumber daya alam yang melimpah di negeri kita sudah mendunia lho, Bela. Tapi, sayangnya masih ada pihak-pihak yang nggak bertanggung jawab yang telah merusak alam kita untuk kepentingan pribadi saja.
Beberapa tokoh aktivis lingkungan berupaya untuk memperbaiki dan mencegah kerusakan ini. Salah satunya adalah Farwiza Farhan. Penggagas Yayasan HAkA ini telah berjuang melindungi Taman Nasional Leuser di Sumatra, atau yang dijuluki sebagai “Surga Terakhir Dunia” dalam artikel yang ditulis BBC.
Berikut beberapa cerita tentang Farwiza dan perjuangannya merawat surga dunia!
Farwiza meraih penghargaan Whitley Awards tahun 2016. Ajang penghargaan ini telah diikuti oleh 130 kandidat aktivis lingkungan yang tersebar di seluruh dunia.
“Sebenarnya walaupun yang menerima Whitley Awards itu saya, tapi ini mewakili yang lain juga yang juga berjuang demi lingkungan,” ucap Farwiza dikutip dari artikel yang diunggah oleh forum Kaskus.
Farwiza merasa kunjungan Leonardo di Kawasan Ekosistem Leuser itu murni datang dari rasa kepedulian Leonardo pada lingkungan dan bukan hanya pencitraan semata.
“Saat di lapangan, melihat Leonardo berpeluh keringat, di bawah terik matahari, lokasi yang sumpek, pengap, dan dia membawa perbekalannya sendiri. Buat saya, itu menunjukkan bagaimana orang yang ada di posisi setinggi dia benar-benar peduli dan tulus pada apa yang ia lakukan,” ujar Farwiza ketika diwawancarai oleh Femina.
Sejak remaja Farwiza sudah dididik untuk hidup sederhana dan nggak berlebihan. Ayahnya yang seorang mantan anggota DPR dan dosen farmakologi selalu menasihatinya untuk nggak sering pamer dan terbuai dengan gaya hidup teman-temannya. Didikan yang serupa juga didapatkan oleh ibunya yang merupakan dosen teknik kimia.
Walau pekerjaannya di negeri kangguru itu menjanjikan, tapi Farwiza justru ingin pulang dan melakukan sesuatu untuk tanah kelahirannya. Ia memegang ambisi untuk melindungi kawasan ekosistem Leuser, karena di sanalah habitat empat megafauna seperti orang utan, harimau, gajah, juga badak berada.
Farwiza selalu mengingat pesan kedua orangtuanya untuk menjadi apapun yang ia mau dan melakukan apapun yang ia ingin lakukan. Karena itu, ia meyakini pilihannya untuk berjuang demi rasa cintanya kepada lingkungan.
Kepedulian Farwiza dengan alam dimulai dari kunjungannya ke laut Pulau Weh, Sabang. Saat itu Farwiza yang masih berseragam putih abu-abu menyaksikan terumbu karang yang kondisinya semakin parah, ia menjadi merasa terdesak untuk melakukan sesuatu untuk lingkungannya. Baginya, permasalahan lingkungan bisa berdampak pada aspek apapun dalam kehidupan, termasuk perekonomian.
Dalam wawancaranya dengan BBC Farwiza mengatakan, “Saya menjadi pegiat konservasi karena awalnya saya terlalu sering menonton program Blue Planet BBC. Saya jatuh cinta dengan lautan, dengan terumbu karang saat saya masih sangat belia, dan saya menetapkan bahwa inilah yang ingin saya lakukan dalam hidup saya”.
Farwiza bercerita sempat mengalami beberapa ancaman tapi dirinya mengaku masih baik-baik saja sejauh ini. Ia juga mengatakan bahwa para aktivis lingkungan yang bekerja di daerah lain mungkin mengalami kondisi yang nggak jauh lebih baik dari dirinya.
“Self awareness itu penting, mendidik diri sendiri mengenai apa yang perlu kita lakukan itu adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan alam. Kalau kita tahu apa dampak kecil seperti misalnya dalam memilih minum pake gelas atau ngambil botol mineral plastik. Pake plastik nggak pake plastik. Itu hal yang sangat kecil tapi ada dampaknya,” tutur Farwiza.\
Wah menginsipirasi banget ya, Bela!
