Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Sejarah Panjang Hari Film Nasional
soloevent.id
  • Hari Film Nasional diperingati setiap 30 Maret untuk mengenang hari pertama syuting film Darah dan Doa (1950) karya Usmar Ismail, yang dianggap sebagai film Indonesia pertama pasca-kemerdekaan.
  • Penetapan tanggal 30 Maret sempat melalui perdebatan dengan beberapa usulan lain sebelum akhirnya diresmikan lewat Keppres No. 25 Tahun 1999 oleh Presiden B.J. Habibie.
  • Saat ini perfilman Indonesia mulai bangkit pascapandemi, dengan dukungan pemerintah terhadap platform digital dan berbagai prestasi film nasional di ajang penghargaan internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
1945-1949

Periode Perang Kemerdekaan Indonesia berlangsung sebelum negara resmi berdiri. Setelah periode ini, film Darah dan Doa menjadi film pertama yang diproduksi oleh Indonesia sebagai negara merdeka.

30 Maret 1950

Hari pertama syuting film Darah dan Doa karya Usmar Ismail, yang kemudian dijadikan dasar penetapan Hari Film Nasional.

11 Oktober 1962

Dalam konferensi Dewan Film Nasional dengan Organisasi Perfilman, tanggal 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Pada kesempatan yang sama, Usmar Ismail dan Djamaludin Malik diangkat sebagai Bapak Perfilman Indonesia.

1999

Presiden B.J. Habibie meresmikan Hari Film Nasional melalui Keppres No. 25 Tahun 1999 dengan pertimbangan nilai sejarah dan motivasi bagi insan perfilman nasional.

2021

Film Yuni memperoleh penghargaan Platform Prize dari Festival Film Internasional Toronto, sementara Penyalin Cahaya memenangkan 12 Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI).

kini

Perfilman Indonesia mulai bangkit setelah pandemi COVID-19. Pemerintah mendorong pemanfaatan platform digital untuk memperluas pasar dan mempercepat pemulihan industri film nasional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Peringatan Hari Film Nasional Indonesia yang ditetapkan setiap 30 Maret untuk mengenang dimulainya produksi film “Darah dan Doa” karya Usmar Ismail sebagai tonggak sejarah perfilman nasional.
  • Who?
    Usmar Ismail sebagai sutradara film “Darah dan Doa”, Presiden B.J. Habibie yang meresmikan melalui Keppres No. 25 Tahun 1999, serta insan perfilman Indonesia yang memperingatinya setiap tahun.
  • Where?
    Peringatan berlangsung di seluruh Indonesia, dengan latar sejarah pembuatan film di bawah Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) yang berbasis di Jakarta pada masa awal kemerdekaan.
  • When?
    Tanggal 30 Maret dipilih sejak konferensi Dewan Film Nasional tahun 1962 dan resmi ditetapkan melalui Keputusan Presiden pada tahun 1999 oleh Presiden B.J. Habibie.
  • Why?
    Tanggal tersebut dipilih karena menandai hari pertama syuting film cerita pertama buatan bangsa Indonesia, sekaligus untuk meningkatkan semangat dan kepercayaan diri para pelaku industri film nasional.
  • How?
    Penetapan dilakukan melalui Keppres No. 25 Tahun 1999 setelah proses panjang pemilihan tanggal, disertai dorongan pemerintah agar insan perfilman terus berkarya dan memanfaatkan platform digital pascapandemi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Selain Hari Musik Nasional yang diperingati pada 9 Maret kemarin, Indonesia juga memperingati Hari Film Nasional setiap 30 Maret. Peringatan ini memiliki sejarah yang panjang sebelum akhirnya diresmikan pada 1999.

Singkatnya, latar belakang terpilihnya tanggal ini adalah menandai hari pertama syuting film Darah dan Doa (1950) garapan sutradara Usmar Ismail. Film ini diproduksi oleh Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) yang kala itu belum lama terbentuk.

Lantas, bagaimana dengan sejarah lengkapnya? Simak rinciannya di bawah ini, yuk!

Hari bersejarah untuk perfilman Indonesia

id.wikipedia.org

Darah dan Doa atau The Long March of Siliwangi dinilai sebagai film pertama yang bercirikan Indonesia. Film berdurasi 128 menit itu bercerita tentang perjalanan panjang (long march) prajurit Divisi Siliwangi untuk kembali dari Yogyakarta ke Jawa Barat. Film ini difokuskan kepada kisah Kapten Sudarto (Del Juzar) yang digambarkan sebagai pahlawan, tetapi masih seorang manusia biasa.

Hal lain yang membuat Darah dan Doa amat bersejarah bagi Indonesia adalah, fakta bahwa film ini menjadi film pertama yang diproduksi Indonesia setelah resmi menjadi sebuah negara pasca-Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949). Penyair Sitor Situmorang merupakan penulis naskah film ini.

Pemilihan tanggal berlangsung alot

genpi.co

Rupanya 30 Maret bukan satu-satunya tanggal yang menjadi kandidat Hari Film Indonesia. Kandidat terkuat lainnya adalah 19 September. Tanggal tersebut merupakan tanggal peliputan Rapat Raksasa Lapangan Ikada yang dipimpin Presiden Soekarno. 

Beberapa pihak menilai peristiwa tersebut patut dikenang karena keberanian juru kamera Berita Film Indonesia (BFI) yang cukup besar. Namun, peristiwa jurnalistik ini dinilai kurang tepat karena konteks peringatan Hari Film Nasional adalah film cerita.

Usulan lainnya yaitu 6 Oktober. Tanggal tersebut merupakan hari diserahkannya perusahaan Nippon Eiga Sha oleh penguasa Jepang kepada pemerintah Indonesia. Perusahaan itu kemudian menjadi BFI dan Produksi Film Negara (PFN). Lagi-lagi, usulan ini ditolak karena tidak menggambarkan nilai perjuangan.

Diresmikan dalam Keppres No. 25 Tahun 1999

Instagram.com/b.jhabibie

Meski 30 Maret telah ditetapkan sebagai Hari Film Nasional sejak 11 Oktober 1962 dalam konferensi Dewan Film Nasional dengan Organisasi Perfilman, peringatan ini baru diresmikan pada 1999. Presiden B.J. Habibie mengeluarkan Keppres No. 25 Tahun 1999 tentang Hari Film Nasional.

Keputusan tersebut diambil berdasarkan dua pertimbangan. Pertama, 30 Maret 1950 bersejarah karena pertama kalinya film cerita dibuat oleh orang dan perusahaan Indonesia. Kedua, peringatan ini diperlukan sebagai upaya meningkatkan kepercayaan diri, motivasi para insan film Indonesia, serta meningkatkan prestasi yang mampu mengangkat derajat film Indonesia secara regional, nasional, dan internasional.

Pengangkatan Bapak Perfilman Indonesia

id.wikipedia.org

Penetapan Hari Film Nasional pada 11 Oktober 1962 juga menetapkan dua tokoh sebagai Bapak Perfilman Indonesia. Pertama yaitu Usmar Ismail, sutradara Darah dan Doa sekaligus pendiri Perfini.

id.wikipedia.org

Kedua, Djamaludin Malik yang merupakan pendiri Perseroan Artis Indonesia (Persari) Film. Pada masa kejayaannya, Persari Film memproduksi berbagai judul sinetron dan film.

Perfilman Indonesia saat ini

cineverse.id

Saat ini, perfilman Indonesia perlahan mulai bangkit usai terpukul oleh pandemi COVID-19. Pemerintah pun mendorong insan perfilman Indonesia untuk memanfaatkan platform digital untuk mempercepat pemulihan iklim industri.

Layanan streaming ini menjadi peluang tambahan bagi industri perfilman karena dapat menjangkau pasar yang lebih luas bahkan bisa masuk pasar global. Ini peluang besar bagi para sineas Indonesia yang berkiprah di regional maupun global,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Webinar Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri, dikutip dari situs resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

Selama masa ini, beberapa film Indonesia menuai prestasi di penghargaan nasional hingga internasional. Sebut saja Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang memenangi Penghargaan Golden Leopard dalam Festival Film Locarno, Yuni yang memperoleh penghargaan Platform Prize dari Festival Film Interasional Toronto 2021, hingga Penyalin Cahaya yang menyabet 12 Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) 2021 untuk berbagai kategori.

Sejarahnya ternyata cukup panjang, ya? Kira-kira apa film Indonesia favorit Bela?

Editorial Team

EditorAyu Utami