Langkah awal bisnisnya dimulai dari tempat yang sederhana. Pada tahun 1970, Martha membuka salon pertamanya di garasi rumah orang tuanya di Jalan Kusuma Atmaja, Menteng, Jakarta Pusat dengan modal Rp1 juta. Salonnya pun mulai ramai dan menjadi langganan para peragawati serta istri pejabat kedutaan kala itu.
Ia terus berupaya mengembangkan salonnya dengan membagikan selebaran-selebaran ke lingkungan sekitar, memanjakan para pengunjung salon dan mengajak mereka bercakap-cakap, untuk mendekatkan emosional. Dengan kedekatan itu, para pengunjung menjadi betah dan menjadi pelanggan tetap salonnya.
Dua tahun berselang, pada 1972, Martha pergi ke Eropa untuk belajar ramu-ramuan. Ia mengunjungi pabrik Yves Rocher di Prancis, Mary Quant di Inggris, dan Hartleben di Jerman Barat. Setelah kembali ke Indonesia, ia akhirnya didirikannya Martha Griya Salon yang memperkenalkan perawatan kecantikan tradisional.
Melihat besarnya minat perempuan Indonesia akan perawatan herbal, Martha bersama mitra bisnisnya, Boenjamin Setiawan dan Theresia Harsini Setiady dari Kalbe Farma, mendirikan PT Martina Berto pada tahun 1977. Dari sinilah lahir merek ikonik Sariayu Martha Tilaar. Sariayu sendiri menggabungkan resep tradisional jamu dan teknologi modern.
Baru berusia dua tahun perusahaan itu mendapat penghargaan tertinggi untuk penampilannya pada The First Asian Beauty Congress and Exhibition, Singapura. Martha sendiri memperoleh gelar Doktor Kehormatan di bidang Fashion Artistry dari The World University Tucson, Arizona, Amerika Serikat, 1984.
Pada tahun 1981, bisnisnya mulai meroket dan melakukan ekspansi dengan membuka pabrik kosmetik modern pertama di Kawasan Industri Pulogadung. PT Martina Berto menjadi perusahaan kosmetik pertama di Indonesia yang meraih sertifikat mutu ISO 9001. Tak sampai di situ, Martha Tilaar Group terpilih menjadi salah satu dari 55 perusahaan dunia anggota Global Compact Lead PBB.