Popbela.com/Andre Wiredja
Wardrobe: dress dan bodysuit Rama Dauhan, cincin dan anting Ruang Gelap Jiwa, Bangles milik stylist
Menjadi penari sejak kecil, banyak tantangan yang ia alami. Selama menuntut ilmu di negeri orang pun, Nudi bercerita kalau dirinya sempat mengalami culture shock, bahkan kerap mengalami diskriminasi.
Ia mengatakan harus mengorbankan waktunya untuk latihan menari di saat teman-teman seusianya sedang bermain. Nudi mengaku hanya memiliki sedikit teman dan jarang ikut acara sekolah.
“Untuk aku yang umur segitu, masih SMP, masih suka main-main, terus jalan sama teman, akhirnya aku harus mengorbankan waktuku. Saat yang lain jalan-jalan aku latihan, yang lain bisa pergi makan atau apa, aku tetap latihan.
Aku di SD sampai SMP, teman tuh bisa dihitung pakai jari gitu. Hampir jarang jalan, terus ikut acara sekolah pun juga jarang. Karena, ya aku harus latihan. Jadi sebenarnya yang paling besar tuh ya mengorbankan waktu gitu,” ungkap penari tersebut.
Berada di lingkungan yang berbeda juga membuatnya mengalami beberapa perundungan. Apalagi, Nudi adalah satu-satunya orang Indonesia yang bersekolah di sana kala itu.
“Waktu aku sekolah di luar negeri pun juga ada sedikit exotisme, rasisme yang menurut aku mungkin mereka tidak menyadari hal itu. Tak banyak yang tahu Indonesia. Sepertinya, orang Indonesia pun cuma aku sendiri dari 20 tahun mereka berdiri,” tambah Nudi.
Selama sekolah, ia hampir tidak pernah mendapat peran dalam sebuah pertunjukkan tari. Walau ia statusnya masih murid, namun sekolah tersebut melihatnya juga sebagai pekerja. Karena ia berasal dari Asia, tak jarang ia menjadi sasaran rasisme.
Awalnya, Nudi merasa sedih dan menangis. Ia juga kesal dengan perlakuan buruk tersebut. Hingga lama-lama ia menghiraukannya. Akan tetapi, saat ia mulai melihat ada ketidakadilan yang sudah parah, Nudi tak segan untuk angkat bicara.