Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Mengintip Lembaran Memori Masa Lalu Lewat "Diary" - SHAUN
Dok. SHAUN
  • SHAUN merilis single pre-release ketiga berjudul 'Diary' menjelang EP penuhnya pada April 2026, melanjutkan kisah dari 'Pixels' dan 'Night Walk'.
  • Lagu 'Diary' menonjolkan aransemen gitar berlapis yang terdengar sederhana namun kaya, menggambarkan kejujuran musikal SHAUN serta makna mendalam tentang memori fisik di era digital.
  • SHAUN mengungkap nostalgia sebagai sumber inspirasi utama dalam berkarya dan menegaskan idealismenya untuk tetap jujur tanpa dikendalikan ekspektasi pasar atau pendengar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bela, ingat nggak kapan terakhir kali kamu dengerin lagu "Way Back Home"? Lagu ikonik dari SHAUN itu rasanya masih sering banget lewat di playlist kita, ya. Nah, solois sekaligus produser jenius asal Korea Selatan yang udah mengumpulkan belasan miliar streaming ini akhirnya kembali membawa kabar bahagia.

Menjelang perilisan EP penuhnya pada April 2026, SHAUN baru saja merilis single pre-release ketiganya yang diberi judul "Diary". Lagu ini kelanjutan dari "Pixels" dan "Night Walk" yang siap mengajak kamu menyelami sisi paling personal dari seorang SHAUN.

Yuk, kita bedah cerita manis di balik lagu terbaru SHAUN yang terasa hangat sekaligus melankolis ini!

Sentuhan gitar yang menipu telinga

Dok. SHAUN

Kalau pertama kali mendengar "Diary", kamu mungkin akan berpikir kalau aransemen lagu ini sangat minimalis. Kombinasi petikan gitar elektrik dan vokal SHAUN terasa begitu tenang dan intim. Tapi jangan salah, Bela! SHAUN membocorkan bahwa di balik kesederhanaan itu, ada proses produksi yang sangat kaya.

"Sebenarnya, kalau kamu mendengarkan lagunya dengan saksama, alunan gitarnya tidak sesederhana yang kamu pikir. Justru, ada banyak sumber yang aku gunakan. Tapi, semua layer itu aku coba satukan sehingga terdengar begitu natural seperti alunan sederhana yang kamu dengar dalam lagu ini," kata SHAUN.

SHAUN mengaku sengaja memakai banyak layer instrumen gitar yang padat. Kuncinya ada pada keahliannya meramu semua suara itu agar menyatu dengan super halus. Alhasil, lagunya terdengar ringkas dan effortless, padahal sebenarnya penuh warna. Musik yang jujur dan mengalir seperti inilah yang selalu jadi ciri khas SHAUN sejak dulu.

Menghargai memori yang berwujud di era digital

Dok. SHAUN

Di zaman sekarang, hampir semua hal kita simpan di dalam gadget, mulai dari foto sampai catatan harian. Namun bagi SHAUN, ada nilai tersendiri dari sesuatu yang bisa disentuh secara fisik. Frasa lirik seperti "old paper and clumsy handwriting" di lagu ini menjadi simbol betapa berharganya coretan tangan di atas kertas lama.

"Aku adalah tipe orang yang ceroboh dan mudah kehilangan barang karena aku nggak pandai menjaga barang. Makanya, aku butuh sesuatu untuk dipegang di tangan. Kehilangan sesuatu memang membuatku sedih, tapi aku juga berpikir kalau sesuatu itu ditakdirkan untuk pergi, ya kamu harus melepaskannya," ungkap SHAUN lagi.

Sempat ada rasa sedih saat kehilangan barang bersejarah, tapi kini ia belajar untuk ikhlas. Baginya, jika sesuatu memang sudah waktunya pergi, kita hanya perlu merelakannya sambil tetap menjaga esensi memorinya.

Kisah nostalgia yang memberinya inspirasi bermusik

Pernah nggak kamu mendadak melamun karena teringat masa lalu? SHAUN ternyata sering banget mengalami hal ini. Rasa rindu pada masa lalu atau nostalgic feeling diakui SHAUN sebagai pemantik utama kreativitasnya. Setiap kali perasaan itu datang, jemarinya langsung bergerak untuk menulis lagu baru.

"Aku pikir saat aku merasa ingin menulis lagu atau menemukan materi yang bagus adalah karena aku sering merasakan perasaan nostalgia. Ketika aku merasakan emosi nostalgia itu, seringkali saat itulah aku berpikir, 'inilah saatnya aku ingin menulis lagu'. Jadi mungkin itulah sebabnya banyak lagu aku yang membawa perasaan nostalgia," curhat SHAUN.

Lewat "Diary", SHAUN mengajak kita melihat masa lalu bukan dengan rasa galau atau terjebak kesedihan, melainkan dengan sudut pandang yang damai. Meski begitu, SHAUN nggak mau terus-terusan terjebak di zona nyaman. Ke depannya, ia sudah punya rencana besar untuk mengeksplorasi tema-tema yang lebih luas dan menantang untuk lirik lagu berikutnya.

Merangkum lembaran hidup dalam satu kata: "2025"

Instagram.com/Shaunthehuman

Jika ditarik garis lurus, tiga single yang sudah dirilis SHAUN belakangan ini sebenarnya punya cerita dan tema yang sangat berbeda satu sama lain. SHAUN menegaskan bahwa tidak ada satu ikatan emosi yang sengaja disamakan. Namun, jika harus dipaksa memilih satu kata kunci untuk merangkum seluruh proyek musik terbarunya ini, ia memilih angka "2025".

Tahun tersebut tampaknya menjadi momen krusial bagi SHAUN dalam menangkap potret dirinya apa adanya. Dalam proses berkarya, SHAUN selalu berusaha menjaga keseimbangan emosi, yang tidak terlalu meledak-ledak, tapi juga tidak terlalu dingin. Karakter yang stabil inilah yang membuat karya-karyanya selalu terasa matang.

Ogah disetir oleh penggemar

Sebagai musisi global dengan jutaan pendengar bulanan di Spotify, SHAUN punya prinsip yang sangat kuat soal idealisme bermusik. Dibandingkan pusing memikirkan apakah lagunya akan memenuhi ekspektasi pasar, ia justru lebih penasaran dengan imajinasi apa yang akan muncul di kepala para pendengar saat menikmati "Diary".

"Seperti yang selalu aku lakukan, aku cenderung mencoba untuk secara jujur ​​menangkap siapa aku saat ini. Daripada berfokus pada harapan pendengar, aku cenderung melihat ke depan tentang bagaimana orang akan berpikir tentang lagu tersebut, imajinasi seperti apa yang akan ditimbulkannya, dan gambaran seperti apa yang akan mereka ciptakan dalam pikiran mereka," katanya.

Bagi SHAUN, membuat musik hanya demi memuaskan keinginan orang lain justru akan membatasi ruang geraknya dalam berkarya. Ia tidak ingin menjadi musisi yang hanya mendikte apa yang ingin didengar oleh penikmat musiknya. Ia ingin membagikan apa yang jujur dari pikirannya. Di akhir obrolan, SHAUN juga menyelipkan pesan manis: rajin-rajinlah menulis buku harian, karena kelak coretan itu akan menjadi potongan memori yang sangat berharga.

Gimana, Bela? Sudah mendengar "Diary" dan merasakan perasaan nostalgia yang relate dengan apa yang kamu rasakan saat ini?

Editorial Team

Related Article