Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Salinan dari Salinan dari BEFORE_20260122_095049_0000.png
Instagram.com / mike.oktavian31

Intinya sih...

  • Mike Octavian, dulu manusia silver, kini model profesional

  • Kekecewaan di JFW tak membuat Mike menyerah

  • Peluang baru datang dari Korea Selatan setelah kegagalan di JFW

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Nasib seseorang memang tak pernah bisa ditebak. Hal inilah yang dialami Mike Octavian, remaja berusia 16 tahun yang dulu mencari nafkah sebagai manusia silver di jalanan, kini justru dikenal sebagai model profesional. Perubahan besar dalam hidup Mike menjadi kisah inspiratif tentang kesempatan, keberanian, dan mimpi.

Sebelum terjun ke dunia mode, Mike menjalani hari-harinya sebagai manusia silver dan badut demi membantu perekonomian keluarga. Namun kini, dengan tinggi badan sekitar 180–181 sentimeter dan penampilan yang semakin matang, ia justru menjadi tulang punggung keluarga tanpa harus bergantung pada orang tua.

Perjalanan tersebut tentu tidak instan. Mike harus melewati berbagai proses, mulai dari rasa tidak percaya diri hingga kegagalan, sebelum akhirnya menemukan jalannya di industri fashion.

Gagal di Jakarta Fashion Week, tak membuat Mike menyerah

Instagram.com / mike.oktavian31

Menjadi model profesional bukan hal mudah, terlebih bagi Mike yang datang dari latar belakang sederhana. Ia mengaku pernah mengalami kekecewaan saat mengikuti casting untuk ajang bergengsi Jakarta Fashion Week (JFW).

"Kemarin kayak event Jakarta Fashion Week, Mike nggak lolos," ucap Mike saat diwawancarai di salah satu acara televisi nasional, pada Rabu (21/1/2026).

Meski gagal menembus panggung JFW, Mike memilih untuk tidak patah semangat. Baginya, kegagalan tersebut bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar di dunia baru yang sedang ia geluti.

Peluang baru dari Korea Selatan

Instagram.com / mike.oktavian31

Usai kegagalan di JFW, pintu rezeki justru terbuka dari arah yang tak disangka. Mike mengungkapkan bahwa dirinya dihubungi oleh sebuah agensi modeling asal Korea Selatan yang tertarik dengan potensinya.

"Mike kaget banget ada agensi Korea yang tertarik dengan Mike. Insyaallah keterima nanti," ujarnya penuh harap.

Kabar tersebut menjadi suntikan semangat baru bagi Mike. Ia menyadari bahwa satu kegagalan tidak menutup semua kesempatan, dan jalan menuju mimpi bisa datang dari mana saja.

Berawal dari video viral, Mike Octavian mantap terjun ke dunia modeling

Instagram.com / mike.oktavian31

Transformasi hidup Mike bermula dari video makeover oleh Captain Barbershop yang viral sekitar tahun 2023. Dari momen tersebut, Mike memberanikan diri mencoba dunia modeling. Awalnya ia merasa insecure dan grogi, namun seiring waktu kepercayaan dirinya tumbuh.

Karier Mike pun mulai menanjak. Ia tercatat pernah berjalan di runway untuk desainer ternama Indonesia seperti Danjyo Hiyoji, Sapto Djojokartiko, hingga Harry Halim. Mike juga bergabung dengan Humann Management dan melakukan debut runway di Plaza Indonesia Mens Fashion Week 2024. Namanya kembali muncul di berbagai ajang mode, termasuk Indonesian Trend Fashion Week 2025 dan Plaza Indonesia Mens Fashion Week 2025.

Pesan Mike untuk anak muda agar berani bermimpi

Instagram.com / mike.oktavian31

Di media sosial, Mike sempat membagikan perjalanan hidupnya melalui sebuah unggahan yang memperlihatkan perbedaan kehidupannya dulu dan sekarang.

"Didn't change that much (tidak banyak berubah). Oh. Silver man."

Unggahan tersebut menunjukkan bahwa meski kehidupannya berubah drastis, Mike tetap rendah hati dan tidak melupakan masa lalunya. Atas pencapaian yang diraih, Mike pun menyampaikan pesan penting bagi anak muda agar tidak takut bermimpi meski berasal dari keluarga sederhana.

"Kita harus punya mimpi, kita kejar mimpi kita. Kita tidak tahu kita lahir di keluarga yang mana," pesan Mike Octavian.

Kini, Mike Octavian tak lagi berdiri di persimpangan jalan sebagai manusia silver, melainkan melangkah mantap di atas runway—membuktikan bahwa mimpi bisa dikejar oleh siapa saja yang berani berusaha.

Editorial Team