Rabu (6/5), Kepala Bakom RI Muhammad Qodari menyebut telah bertemu dengan perwakilan homeless media dan membuka ruang kolaborasi untuk memperluas jangkauan komunikasi publik pemerintah.
Dalam konferensi pers itu, Qodari juga menyebut sejumlah media digital yang dikaitkan dengan Indonesia New Media Forum (INMF).
Namun sehari setelahnya, Komite INMF memberikan klarifikasi bahwa daftar media yang beredar bukanlah daftar anggota resmi organisasi mereka, melainkan hanya bagian dari pemetaan ekosistem media digital yang sempat digunakan dalam diskusi internal.
INMF juga menegaskan bahwa forum mereka masih bersifat independen dan belum membuka keanggotaan formal maupun menjalin kerja sama resmi dengan pihak mana pun, termasuk pemerintah.
Perwakilan INMF, Timothy Marbun, mengatakan pertemuan dengan Bakom RI hanya sebatas silaturahmi dan membuka jalur komunikasi agar media baru tetap bisa melakukan cover both sides dalam peliputan isu pemerintahan.
Polemik ini kemudian memicu diskusi luas di media sosial mengenai posisi homeless media dalam ekosistem informasi Indonesia. Sebagian publik melihat media baru sebagai bentuk evolusi media digital yang lebih dekat dengan audiens muda.
Namun, ada pula yang mempertanyakan standar akuntabilitas, independensi, dan praktik jurnalistik di tengah semakin kaburnya batas antara media, kreator konten, dan platform sosial.
Bagaimana tanggapanmu mengenai isu homeless media di Indonesia ini, Bela?