Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Varian Baru COVID-19 Terdeteksi Global, Apakah Indonesia Termasuk?
freepik.com/The Yuri Arcurs Collection
  • Kemenkes RI menegaskan varian baru COVID-19 BA.3.2 atau Cicada belum ditemukan di Indonesia, meski sudah terdeteksi di lebih dari 25 negara.
  • Varian Cicada merupakan turunan Omicron dengan sekitar 70–75 mutasi pada spike protein, membuatnya mudah menular dan mampu menghindari kekebalan tubuh.
  • WHO menetapkan Cicada sebagai Variant Under Monitoring dengan risiko rendah, sementara Indonesia masih didominasi varian XFG (Stratus) dan terus melakukan pemantauan ketat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
November 2024

Afrika Selatan menjadi negara pertama yang mengidentifikasi varian BA.3.2 (Cicada), diikuti oleh Mozambik dan Kenya.

pertengahan 2025

Varian XFG (Stratus) mulai menjadi dominan di Indonesia dengan kontribusi sekitar 57% dari total kasus per April 2026.

5 Desember 2025

WHO mengkategorikan varian Cicada (BA.3.2) sebagai Variant Under Monitoring (VUM).

akhir Maret 2026

Kemenkes RI menyatakan belum ditemukan varian Cicada di Indonesia dan menilai risikonya rendah.

awal April 2026

Kemenkes RI kembali memastikan bahwa varian Cicada belum terdeteksi di Indonesia, sementara varian lokal yang beredar adalah XFG (Stratus), LF.7, dan XFG 3.4.3.

April 2026

Beberapa negara memantau kemunculan varian baru seperti BA.3.2 (Cicada); di Indonesia masih dominan varian Stratus dengan kontribusi sekitar 57% kasus.

kini

Varian Cicada telah terdeteksi di lebih dari 25 negara, namun belum ditemukan di Indonesia; pemerintah terus melakukan pemantauan ketat di pintu masuk negara.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Varian baru COVID-19 bernama BA.3.2 atau “Cicada” terdeteksi di lebih dari 25 negara, namun hingga awal April 2026 belum ditemukan di Indonesia menurut Kementerian Kesehatan RI.
  • Who?
    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Aji Muhawarman, serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang memantau perkembangan varian tersebut.
  • Where?
    Varian Cicada telah terdeteksi di berbagai wilayah dunia seperti Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan Afrika Selatan; sementara di Indonesia belum ditemukan kasusnya.
  • When?
    Situasi ini dilaporkan hingga awal April 2026, dengan WHO menetapkan varian Cicada sebagai Variant Under Monitoring sejak 5 Desember 2025.
  • Why?
    Kemunculan varian baru terjadi karena mutasi genetik virus COVID-19 yang terus berlangsung dan memungkinkan peningkatan kemampuan penularan serta penghindaran kekebalan tubuh.
  • How?
    Pemerintah melakukan pemantauan ketat di pintu masuk negara untuk mencegah masuknya varian Cicada, sementara WHO menilai risikonya masih rendah tanpa peningkatan keparahan kasus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kabar mengenai varian baru COVID-19 kembali menjadi sorotan publik. Di tengah situasi yang mulai terasa sudah terkendali, munculnya varian baru seperti BA.3.2 atau yang dijuluki “Cicada” membuat banyak orang kembali waspada. Cicada merupakan turunan dari Omicron BA.3. Hal ini merespons sedikitnya 25 negara yang sudah terdeteksi varian baru tersebut.

Meski begitu, kemunculan varian baru ini tetap menjadi perhatian global karena potensi penyebarannya yang cepat dan kemampuannya beradaptasi terhadap kekebalan tubuh. Langsung saja, simak informasi selengkapnya di bawah ini ya, Bela.

COVID-19 Terus Bermutasi, Varian Baru Terus Bermunculan

freepik.com

Virus COVID-19 terus bermutasi seiring waktu, dan kemunculan varian baru menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Per April 2026, beberapa negara kembali memantau varian baru seperti BA.3.2 (Cicada), sementara di Indonesia sendiri sempat ditemukan varian seperti KP.1/KP.2 dan XFG (Stratus).

Sebagian besar varian terbaru ini merupakan turunan dari Omicron, seperti XBB.1.5 (Kraken), JN.1, hingga BA.3.2 (Cicada). Umumnya, varian-varian ini memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi, namun gejalanya cenderung lebih ringan, menyerupai flu biasa.

Salah satu faktor yang membuat varian baru lebih mudah menyebar adalah perubahan genetik pada bagian spike protein, yang memungkinkan virus masuk ke dalam tubuh manusia dengan lebih cepat.

Mengenal Varian Cicada dan Stratus yang Jadi Sorotan

freepik.com/rawpixel.com

Varian terbaru yang paling mencuri perhatian saat ini adalah BA.3.2 yang dijuluki “Cicada”, serta varian XFG atau “Stratus” yang sempat mendominasi di Indonesia. Varian Cicada disebut unik karena sebelumnya sempat menghilang atau beredar dalam jumlah sangat rendah selama bertahun-tahun sebelum akhirnya muncul kembali secara bersamaan di berbagai negara.

Selain itu, varian ini memiliki jumlah mutasi yang cukup tinggi, yaitu sekitar 70 hingga 75 mutasi pada spike protein. Hal ini membuatnya lebih mudah menular dan memiliki kemampuan untuk menghindari kekebalan dari vaksin maupun infeksi sebelumnya.

Hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa varian tersebut menyebabkan gejala yang lebih parah. Gejala yang muncul umumnya masih tergolong ringan, seperti batuk kering, kelelahan, dan demam. Di Indonesia sendiri, varian XFG (Stratus) masih menjadi yang paling dominan sejak pertengahan 2025, dengan kontribusi sekitar 57% dari total kasus per April 2026.

Penyebaran Global, dari Eropa hingga Asia

freepik.com/The Yuri Arcurs Collectionfreepik.com/The Yuri Arcurs Collection

Varian BA.3.2 (Cicada) telah terdeteksi di lebih dari 25 negara di berbagai belahan dunia. Di Eropa, varian ini bahkan menyumbang sekitar 30% dari sampel yang dianalisis selama musim dingin. Beberapa negara seperti Denmark, Jerman, dan Belanda melaporkan peningkatan deteksi dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara di Inggris, varian ini ditemukan melalui wisatawan internasional. Di kawasan Asia, Jepang mendeteksi kasus melalui pemantauan wisatawan, sementara Singapura dan Thailand juga melaporkan penyebaran varian baru lainnya.

Di Amerika Serikat, varian ini telah terdeteksi di setidaknya 25 negara bagian, termasuk New York dan California, bahkan ditemukan dalam sampel air limbah pesawat di bandara internasional. Australia juga mengalami lonjakan kasus yang signifikan, khususnya di wilayah New South Wales dengan lebih dari 10.000 kasus tercatat. Sementara itu, Afrika Selatan menjadi negara pertama yang mengidentifikasi varian ini sejak November 2024, diikuti oleh Mozambik dan Kenya.

Bagaimana Situasi di Indonesia Saat Ini?

freepik.com

Hingga awal April 2026, Kemenkes RI memastikan bahwa varian Cicada (BA.3.2) belum ditemukan di Indonesia. Saat ini, varian yang beredar secara lokal adalah XFG (Stratus), LF.7, dan XFG 3.4.3 yang tergolong berisiko rendah.

Aji Muhawarman, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, menjelaskan bahwa varian Cicada telah dikategorikan sebagai Variant Under Monitoring (VUM) oleh WHO sejak 5 Desember 2025. Namun, varian ini belum menunjukkan peningkatan keparahan, angka rawat inap, maupun kematian.

Sampai saat ini akhir Maret 2026, belum ditemukan varian tersebut di Indonesia. Menurut WHO, risiko kesehatan masyarakat untuk varian BA.3.2 (Cicada) adalah rendah. Karena situasi masih terkendali dan berisiko rendah, maka tidak ada tindakan khusus berupa pengetatan di pintu masuk negara,” jelas Aji dikutip dari IDN Times.

Dengan begitu, pemerintah tetap melakukan pemantauan ketat di pintu masuk negara untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya varian baru. Kemunculan Cicada memang bisa menimbulkan kekhawatiran, namun penting untuk tetap melihat situasi secara bijak dan berdasarkan data. So, tetap waspada dan jaga kesehatanmu, Bela.

Editorial Team