Isu kekerasan seksual pada perempuan mungkin bukanlah hal baru di Indonesia. Seringkali kita mendengar kasus di mana perempuan menjadi korban pelecehan seksual, namun mereka bingung bagaimana harus bereaksi. Sedihnya, banyak korban yang justru disalahkan oleh orang-orang di sekitarnya saat bercerita mengenai pelecehan tersebut. Alhasil, perempuan-perempuan yang nggak memiliki mental kuat merasa sendirian, tertekan, dan takut bercerita pada siapa pun.

Berbagai kisah pilu yang dialami perempuan akhirnya membuat Anindya Restuviani tergerak untuk maju dan mengakhiri kekerasan pada perempuan. Aktivis yang akrab disapa Vivi ini kemudian mendirikan organisasi bertajuk Hollaback! Jakarta di tahun 2016 lalu. Untuk yang belum tahu, Hollaback! sendiri merupakan gerakan global yang pertama kali berdiri pada tahun 2005 di New York, Amerika Serikat.  

Jangan Minder, Ini Pentingnya Self Love bagi Korban Kekerasan SeksualInstagram.com/anindyavivi

Vivi mengatakan tujuan dari organisasi yang ia dirikan ini ialah untuk memberikan ruang aman kepada para perempuan untuk bisa bercerita tentang masalah kekerasan seksual yang mereka alami atau yang mereka lihat. Sebab, menemukan ruang aman untuk bercerita itu nggak banyak, bahkan seringkali para korban dihakimi saat menceritakannya pada orang terdekat sekalipun.  

“Aku harap dengan adanya (Hollaback! Jakarta) ini, mereka sadar bahwa mereka itu nggak sendirian. Sekaligus juga untuk meyakinkan kepada diri mereka sendiri bahwa kekerasan seksual yang dialami itu bukan kesalahan mereka, tapi kesalahan pelaku,” tutur Vivi kepada Popbela. 

Jangan Minder, Ini Pentingnya Self Love bagi Korban Kekerasan SeksualInstagram.com/anindyavivi

Aktivis kelahiran 10 Juni 1990 ini mengungkapkan awal mula dirinya tergerak untuk mendirikan Hollaback! Jakarta karena ia menemukan banyak isu perempuan yang ada di sekitarnya. Apalagi, Vivi sendiri juga pernah mengalami kekerasan seksual saat berada di ruang publik di masa kuliah dulu. Mirisnya, ia justru mendapat respons yang kurang positif dari teman dekat dan keluarganya saat menceritakan pengalaman buruk tersebut. Inilah yang membuatnya merasa wajib untuk membuat ruang aman bagi para perempuan untuk bercerita. 

“Jadi akhirnya aku memutuskan untuk sangat fokus di isu perempuan karena aku sebagai perempuan dan aku ingin perempuan di Indonesia punya akses terhadap haknya mereka sebagai warga negara,” jelas Vivi.  

Jangan Minder, Ini Pentingnya Self Love bagi Korban Kekerasan Seksualhollywoodreporter.com

Selama ini, masih banyak orang yang menghakimi korban dan menilai kekerasan seksual yang dialami perempuan juga ada andil dari korban itu sendiri. Inilah yang kadang membuat para korban merasa sedih, tertekan, dan takut untuk bersuara. Bahkan, nggak sedikit yang akhirnya jadi menyalahkan diri sendiri dan tak ada lagi perasaan self love. Menurut Vivi, mindset inilah yang harus diubah bahwa pelecehan dalam bentuk apa pun itu bukanlah kesalahan korban, tapi murni kesalahan pelaku. 

“Jika kamu merasa bersalah, jangan merasa bersalah. Maafkan diri kamu sendiri karena itu bukan kesalahan kamu. Buat apa kamu menyalahkan diri sendiri di saat itu bukan kamu yang melakukan. Jangan bebankan itu terus-menerus kepada dirimu. Kamu bisa melakukan banyak self care, seperti apa sih yang membuat kamu senang dan surround yourself with positive environment,” pesan Vivi yang juga menjadi pendiri organisasi Lintas Feminis Jakarta. 

Jangan Minder, Ini Pentingnya Self Love bagi Korban Kekerasan Seksualthedailystar.net

Lingkungan dan orang-orang yang positif memang sangat berpengaruh besar pada korban yang mengalami kekerasan seksual. Sebab, jika korban tak memiliki support system yang positif, bukan nggak mungkin ia justru merasa tertekan dan berpengaruh pada kondisi psikologisnya. Bahkan, jangan kaget jika akhirnya ia merasa rendah diri dan membenci tubuhnya setelah mengalami kekerasan seksual. 

Jangan Minder, Ini Pentingnya Self Love bagi Korban Kekerasan SeksualInstagram.com/marcelinamelisa

Psikolog dari Brawijaya Klinik Kemang, Marcelina Melisa M.Psi, mengungkapkan bahwa setiap orang sebenarnya harus memiliki rasa cinta pada diri sendiri, bagaimanapun kelebihan maupun kekurangan yang mereka miliki. Sebab, ketika seseorang membenci dirinya sendiri maka akan timbul emosi dan pikiran negatif yang akan semakin merugikannya. Di sisi lain, banyak permasalahan yang kerap dialami perempuan yang membuat mereka tak lagi memiliki perasaan self love. 

“Susah menerima keadaan dirinya sendiri, dan ini dalam berbagai hal. Juga untuk menerima bahwa kita punya masa lalu yang mungkin nggak terlalu baik, ada yang gagal, ada yang mungkin kurang menyenangkan, ada yang lain-lain. Jadi untuk move on, menerima, dan melanjutkan kehidupan selanjutnya itu juga terasa sulit,” ungkap psikolog yang akrab disapa Lina ini. 

Jangan Minder, Ini Pentingnya Self Love bagi Korban Kekerasan SeksualPopbela.com/Windari Subangkit

Yang semakin berbahaya, masalah yang menyangkut sisi psikologis juga dapat menyebabkan suatu penyakit pada tubuh jika tak ditangani dengan baik. “Psikologis dan fisik itu sebenarnya sesuatu yang nggak terpisahkan. Dan bagian-bagian tubuh kita itu juga kan sebenarnya menggambarkan kita tuh lagi ada masalah di mana sih,” katanya. 

“Misalnya kalau terlalu pusing, mungkin ada yang kita pikirkan terus-menerus. Kalau misalnya di leher bagian belakang tegang banget, mungkin ada sesuatu yang ingin kita komunikasikan tapi nggak bisa-bisa, kita tahan. Masalah psikologis bisa berelasi kalau misalnya sudah terlalu berat dan nggak bisa ditanggung lagi, dan itu biasanya bisa lari ke fisik,” jelas psikolog lulusan Universitas Indonesia ini. 

Jangan Minder, Ini Pentingnya Self Love bagi Korban Kekerasan Seksualpicdeer.org/sgimzunaite

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh perempuan agar kembali mencintai dirinya sendiri? Hal yang pertama tentu saja kita harus bisa menerima keadaan dan memaafkan diri kita. Selain itu, kita juga membutuhkan support system yang positif dan membuat kita nyaman untuk bercerita agar tak ada lagi yang menyalahkan korban. 

“Yang pertama sih menerima keadaan diri kita. Kedua, cari support system yang sehat, yang positif untuk kita, yang kita percaya, kita nyaman, dan mereka bisa support kita untuk membuat decisions yang penting, namun juga bisa memberikan masukan yang positif. Lalu juga ucapkan terima kasih pada diri kita karena terkadang kita lupa mengapresiasi kalau kita sudah berusaha keras untuk itu,” tutup Lina.  

Baca Juga: 8 Seniman Ini Lawan Kekerasan Seksual Lewat Karya Seni Nyeleneh!