Hai diriku, ini sebuah surat curahan hati dariku. Aku ingin menceritakan pada diriku di masa depan bahwa aku pernah melalui proses “merdeka” yang cukup sulit. Sadar bahwa tak ada orang lain yang mampu menolong selain kemauan diri. Di luar sana masih banyak yang belum sadar untuk memerdekakan diri sendiri, sehingga aku boleh berbangga diri bisa menjadi salah satu manusia beruntung.

1. Tak mengapa belum bisa memaafkan diri sendiri, karena segalanya butuh proses

Aku Memaksa Diriku untuk Berubah dan Akhirnya Aku MerdekaPexels.com/Daria Shevtsova

Bila tidak ingin memaafkan siapa pun dan apa pun, maka lakukanlah. Aku hanya manusia biasa, tolong jangan berharap aku mampu memaafkan, terutama pada diriku sendiri. Aku berhak untuk memarahi diriku tentang masa laluku. Aku tidak peduli dengan kalimat motivator yang mengatakan bahwa aku harus merelakan apa yang terjadi. Aku biarkan diriku dipenuhi dendam dan amarah karena aku bukan Dewa. Manusia harus pernah merasakan kemarahan, lakukan yang hatimu ingin teriakkan. Bahkan Kresna, titisan Dewa Wisnu pun marah akibat ulah Sisupala. Untuk itu, biarkan perasaan mengalir begitu saja.

2. Luka akan menghilang, tapi tidak dengan bekasnya

Aku Memaksa Diriku untuk Berubah dan Akhirnya Aku MerdekaUnsplash.com/Drew Coffman

Kata orang, waktu bisa menyembuhkan, tetapi tidak bagiku. Waktu hanya mampu membuatmu lupa sejenak, bukan menyembuhkan total. Manusia akan kembali merasakan sakit ketika mengingat hal yang menyedihkan. Waktu hanya membantu untuk lupa akan kesedihan, tetapi tidak dengan pulih.

3. Manusia itu punya jiwa dan logika, tolong gunakan kedua hal itu sesuai porsinya

Aku Memaksa Diriku untuk Berubah dan Akhirnya Aku MerdekaUnsplash.com/Ben White

Ketika jiwamu lelah, maka mulai gunakan logikamu. Begitu pun sebaliknya. Aku sedang belajar menggunakan dua hal itu. Logika membantuku untuk menjalani hidup, sedangkan jiwa menolongku ketika aku butuh perasaan. Logika melindungiku akan sakit hati, jiwa membantuku untuk menjadi manusia penyayang. Aku tidak ingin menjadi manusia yang hanya mengandalkan salah satu dari itu. 

4. Aku tetap membutuhkan Tuhan, walaupun aku belum bisa menjadi umat sesuai kehendak-Nya

Aku Memaksa Diriku untuk Berubah dan Akhirnya Aku MerdekaUnsplash.com/Jordan Sanchez

Aku sadar betapa hinanya bila tak mampu mengikuti kehendak-Nya. Tidak ada tempat mengadu lebih baik selain kepada-Nya. Aku harus kembali berdoa pada Tuhan, walaupun akan terus mengulangi kesalahan yang sama. Setidaknya Tuhan adalah satu satunya yang bisa menerima diri kita selain diri sendiri. Tak ada salahnya meminta padaNya, karena kita adalah ciptaanNya. Akankah dikabulkan atau tidak, itu kembali pada sikap kita menjalani hidup.

5. Terima kasih pada diriku karena sudah memaksakan diri untuk mengatasi segala pedihnya dunia.

Aku Memaksa Diriku untuk Berubah dan Akhirnya Aku MerdekaUnsplash.com/Anton Malanin

Tak ada yang lebih penting dari kemauan diri sendiri. Seperti sebuah lirik dari lagu Michael Jackson “if you wanna make the world a better place, take a look at yourself and then make a change!” Kalimat itu selalu aku terapkan pada duniaku. Terima kasih pada diriku yang tetap berjalan meski terluka. Bila hal itu tidak aku lakukan, mungkin aku masih terjebak dalam ilusi mematikan yang dibuat oleh harapan.  Aku memaksa diriku untuk membuat perubahan. Karena aku percaya, rasa sakit akan digantikan dengan perasaan bahagia.

“Ini adalah sebuah curahan hati untuk diriku yang sudah merdeka.”

Mau ikut kompetisi menulis artikel surat terbuka dan dimuat di Popbela seperti ini? Baca ketentuannya di bawah ini.

Baca Juga: Ikut Kompetisi Menulis di Popbela, Bisa Dinner Gratis Bareng Pacar!