Mungkin kamu yang membaca ini adalah seseorang yang sedang berusaha memegang komitmen dengan satu pasangan saja seumur hidupmu atau seseorang yang ingin memiliki komitmen seperti itu.

Bisa berkomitmen pada satu orang saja seumur hidup adalah impian banyak pasangan. Bahkan bisa dibilang ini adalah norma sosial yang umum ada dalam masyarakat kita. Mereka yang tidak bisa berkomitmen pada pasangannya seumur hidup akan dianggap pengkhianat. Sebaliknya, mereka yang bisa menjaga kesetiaan pada pasangan hingga maut memisahkan akan dipuji dengan penuh kekaguman.

Tapi menjaga kesetiaan kita terhadap satu orang saja selama berpuluh-puluh tahun tidaklah mudah. Ada banyak 'badai' yang harus kita hadapi dan fakta yang harus kita bahas sekarang adalah, bahwa berkomitmen pada satu orang saja memang bukan sifat alami kita sebagai manusia.

Sifat Alami Manusia Ternyata Tak Bisa Berkomitmen Pada Satu Orang SajaPexels.com/Emma Bauso

Berdasarkanpenelitian, hanya 3 hingga 5 persen mamalia yang bermonogami. Bahkan tidak ada spesies yang pernah benar-benar mencapai tindakan monogami. Sebuaah studi pada vole prairie, spesies yang dianggap sangat monogami, menunjukkan bahwa monogami seksual tidak hanya bergantung pada hormon yang dilepaskan otak, tetapi juga reseptor. 

Sementara itu, pada manusia (yang juga mamalia), jumlah reseptor spesifik bervariasi dari orang ke orang. Hal ini mengakibatkan orang-orang tertentu dilahirkan dengan kecenderungan lebih tinggi untuk condong ke arah poligami seksual.

Jika manusia didorong untuk melakukan monogami seksual atau berkomitmen pada satu pasangan seks saja seumur hidupnya, artinya ada sesuatu yang harus 'ditahan' atau mungkin cukup diubah sudut pandangnya.

Sifat Alami Manusia Ternyata Tak Bisa Berkomitmen Pada Satu Orang Sajawww.herworld.com/

Kita anggap saja, rata-rata orang menikah di usia 25 tahun dan meninggal di usia 75 tahun. Maka jika ingin berkomitmen pada satu pasangan seumur hidupnya, kita harus bertahan selama 50 tahun untuk hidup dengan satu orang saja. 

Selama lima dekade kita harus menahan nafsu (dan mungkin cinta tulus) yang bisa saja tiba-tiba muncul pada orang lain selain pasangan kita. Pada beberapa orang mungkin tidak mudah, hingga muncul apa yang sering kita kenal sebagai perselingkuhan. Selingkuh adalah upaya manusia untuk memenuhi 'sifat alami' mereka.

Sifat Alami Manusia Ternyata Tak Bisa Berkomitmen Pada Satu Orang SajaFreepik.com

Tapi perlu kita tahu juga bahwa faktanya, berkomitmen pada satu orang yang pada akhirnya melahirkan konsep monogami, juga membawa banyak manfaat. Tidak hanya mengurangi risiko penyakit menular seksual, tapi juga bermanfaat secara sosial, emosional, dan finansial.

Pasangan yang saling setia cenderung lebih diterima oleh masyarakat, lebih intim satu sama lain karena paham betul dengan tubuh dan emosi masing-masing, serta tidak memiliki kebutuhan finansial yang terlalu kompleks. Lalu bagaimana dengan persoalan 'sifat alami' tadi yang pada akhirnya bisa menyebabkan perselingkuhan jika terus dituntut untuk setia?

Pertama, dalam hubungan jangka panjang akan ada banyak nilai yang kita dapatkan dan seksualitas tidak selalu menjadi yang utama. Akan ada banyak nilai yang mengalahkan seks, membuat kita enggan untuk 'berkhianat' hanya demi kepuasan seksual semata. Koneksi yang tercipta dan masa depan yang disusun bersama bisa dengan mudah meredam nafsu lain yang datang tiba-tiba. 

Kesetiaan bisa diciptakan. Nafsu pun sesuatu yang bisa dikendalikan. Tidak hanya berpoligami, kita pun mungkin punya sifat alami lain seperti membunuh, mencuri, atau lainnya. Toh, semua itu tidak kemudian harus kita anggap wajar dan kita lakukan bukan?

Baca Juga: Ini Tanda Si Dia Mulai Ambil Langkah Serius untuk Berkomitmen

Baca Juga: Tanda Jika Dia Berkomitmen walaupun Dia Belum Mengatakannya

Baca Juga: 7 Tanda yang Menandakan kalau Kamu Belum Siap Berkomitmen

Baca Juga: 6 Pertanda Kamu Terlalu Sering Menghabiskan Waktu dengan Pasangan