Mungkin kamu baru saja mengunduh aplikasi kencan online hanya untuk mencari teman mengobrol. Mungkin kamu sudah semangat berkenalan dengan seseorang yang temanmu ingin kamu temui. Mungkin juga, kamu masih belum tahu hal yang ingin dilakukan selepas putus dari hubungan sebelumnya, yang merupakan hubungan abusive atau hubungan dengan kekerasan. Ini merupakan hal normal, Bela. Terlepas dari fasemu sekarang, berkencan atau bahkan menjalin hubungan lagi setelah putus dari hubungan  dapat membuatmu merasa lebih rapuh, bahkan jadi lebih stres.

Namun, bukan berarti kondisimu yang sekarang menjadikanmu nggak bisa lagi mencinta, Bela. Para ahli mengatakan kalau kamu dapat menjalin hubungan lagi setelah lepas dari hubungan abusif asalkan kamu sudah siap secara emosional, memiliki kepercayaan dirimu kembali, mencintai diri sendiri, serta dapat membedakan hubungan sehat dan bukan. Bagaimana caranya untuk bisa menyiapkan diri seperti ini? Melansir dari Elite Daily, ini langkah-langkah yang dapat kamu lakukan.

1. Fokus pada penyembuhan diri

Sebelum Berkencan Lagi, Ini 6 Cara Move On dari Abusive RelationshipPexels.com/Anastasia Shuraeva

Menurut para ahli, sangat penting untuk mendapatkan dukungan saat berhadapan dengan pengalaman buruk akibat hubungan abusif sebelum memulai hubungan yang baru. Misalnya saja, kamu bisa menemui konselor atau terapis yang ahli di bidang trauma. Sebab, hubungan dengan kekerasan dapat meninggalkan trauma yang membekas dalam ingatan seseorang dan itu dapat berdampak pada hubungan selanjutnya. Faktanya, banyak yang mengaku jika satu kali berada dalam hubungan abusive dapat membawa seseorang ke siklus yang sama, dan ini terjadi akibat luka psikologis yang belum sempat disembuhkan.

Baik ingin ke konselor maupun sembuh dengan cara lainnya, para ahli menegaskan kalau memiliki waktu dan ruang yang cukup untuk menyembuhkan diri dapat menjadi kunci untuk move on dan menemukan hubungan asmara baru yang lebih sehat dan bahagia. Jadi, penting untuk memahami tanpa memandang sebelah mata terhadap masalah-masalah, seperti cara pelaku kekerasan masuk ke dalam hidup, alasan memilih bertahan dalam hubungan, dan taktik yang digunakan pelaku dalam hubungan. Dengan mengenali hal-hal ini, dapat membantumu untuk sembuh dan meminimalisir kesempatan hadirnya pelaku lain (atau pelaku lama) ke dalam hidupmu.

2. Menemukan makna hubungan asmara yang sehat

Sebelum Berkencan Lagi, Ini 6 Cara Move On dari Abusive RelationshipPexels.com/Vlada Karpovich

Bagi para korban yang selamat, menjalin hubungan baru setelah bebas dari hubungan abusif akan terasa berbeda. Namun, penting untuk memahami kunci penting dalam hubungan sehat. Setiap orang memiliki prioritas dalam hubungan yang berbeda. Namun pada dasarnya, hubungan yang sehat adalah tempat yang mana kedua belah pihak merasa aman untuk saling terbuka dan jujur, menetapkan batasan yang sehat, dan memperlakukan satu sama lain dengan hormat dan sama.

Seiring dengan keinginan untuk memulai berkencan lagi, coba untuk menuliskan hal-hal yang menggambarkan tentang hubungan sehat menurutmu, Bela. Apa yang kamu inginkan dari hubunganmu? Sikap seperti apa yang kamu harapkan dari pasangan padamu? Apa saja yang membuatmu merasa dicintai dan dihargai. Selain itu, tuliskan tanda-tanda bahaya dalam hubungan yang pernah kamu alami dari hubungan abusive sebelumnya, misalnya memanipulasi dirimu, mengucapkan kata kasar, mengendalikan dirimu, dan sebagainya. Lalu, temukan batasan-batasanmu dalam hubungan dan catat semuanya. Terakhir, rencanakan responsmu jika calon pasangan mencoba mengganggu batasan yang telah kamu buat.

3. Percaya pada instingmu

Sebelum Berkencan Lagi, Ini 6 Cara Move On dari Abusive RelationshipPexels.com/Andrea Piacquadio

Saat mulai berkencan lagi, para ahli mengatakan kalau instingmu adalah 'alat' paling kuat dalam menilai jika hubungan itu baik atau nggak untukmu. Para ahli mengatakan kalau hubungan abusive dapat merusak radar psikologismu. Artinya, kemampuanmu untuk memercayai instingmu berkurang, entah karena ragu dengan pikiran dan perasaan, entah karena kamu terlalu curiga pada seseorang dan melindungi diri dari orang lain. Karena itu, kamu jadi sulit untuk membedakan sosok yang baik dan kurang baik.

Maka, penting untuk memeriksa dirimu sendiri, memastikan jika kamu berada di jalan yang benar. Teman terdekat, keluarga, atau psikoterapis dapat membantmu membuka pikiran, perasaan, dan reaksi dalam dirimu selama menjalani kencan baru. Jika pasangan nggak melakukan sesuatu yang membuatmu merasa kurang nyaman, jangan pernah mengabaikannya Jika merasa sesuatu yang nggak beres, boleh jadi memang hal itu benar.

4. Berlatih merawat diri sendiri

Sebelum Berkencan Lagi, Ini 6 Cara Move On dari Abusive RelationshipPexels.com/Leah Kelley

Merawat diri sendiri (self-care) penting untuk siapa pun, khususnya oleh mereka yang pernah mengalami hubungan abusif.  Apa saja self-care yang dapat kamu lakukan? Menurut para ahli, menulis jurnal adalah salah satu bentuk aktivitas yang dapat membantmu merawat diri. Jurnal merupakan tempat yang aman untukmu menuangkan segala pikiran dan perasaan mengenai proses penyemnbuhan yang sedang kamu lakukan.

Selain itu, kamu dapat melakukan meditasi dan yoga karena dua kegiatan itu dapat membantu melatih perhatianmu sekaligus merawat kesehatanmu. Ada juga self-care dengan menghabiskan waktu berkualitas dengan  keluarga, membaca buku, mandi air hangat, dan lain-lainnya. Pokoknya, mulai pikirkan kegiatan-kegiatan yang membuatmu merasa senang dan aman. Namun, para ahli menyarankan untuk melakukan kegiatan fisik yang nyaman untukmu. Sebab, boleh jadi kamu mengalami kekerasan fisik dari hubungan sebelumnya dan kegiatanmu dapat memperburuk kondisimu. Ingat, penting untuk memperlakukan tubuhmu dengan baik dan nggak menyalahi batasanmu sendiri setelah mengalami kekerasan.

5. Melangkah dengan kecepatanmu sendiri

Sebelum Berkencan Lagi, Ini 6 Cara Move On dari Abusive RelationshipPexels.com/Alan Retratos

Para ahli setuju jika hal paling penting untuk diingat adalah jangan pernah merasa tertekan untuk melangkah sesegera mungkin padahal kamu belum siap. Cukup berjalan sesuai dengan kecepatan dan kemampuanmu. Dengan bergerak perlahan, kamu memberikan waktu untuk memproses, sembuh, pulih, dan menyesuaikan kembali.

Hanya kamu yang tahu langkahmu itu terlalu cepat atau nggak. Jadi, selalu memeriksa dirimu sendiri ketika hubungan baru mengalami kemajuan untuk memastikan jika kamu berada di zona nyaman. Kalau pasangan ingin melakukan semuanya seakan tergesa-gesa atau ingin langsung menjalin hubungan serius, boleh jadi itu pertanda bahaya dalam hubungan. Kamu merasa belum siap? Nggak masalah, Bela. Hanya karena hubungan berakhir, bukan berarti siapa pun mengalami kegagalan atau kamu nggak pantas bahagia. Kesejahteraan dirimu adalah prioritas nomor satu.

6. Mengenal support system-mu

Sebelum Berkencan Lagi, Ini 6 Cara Move On dari Abusive RelationshipPexels.com/Gustavo Fring

Memulai hubungan baru setelah meninggalkan hubungan abusive memang dapat membuatmu merasakan banyak hal. Namun, kamu nggak sendirian dalam berhadapan dengan berbagai tantangan yang ada. Ada keluarga dan teman yang selalu menyediakan bahu untuk bersandar, pelukan untuk menangis, dan telinga untuk mendengarkan. Coba buat daftar orang-orang yang termasuk ke dalam support system-mu. Membangun support system yang terdiri dari orang-orang kepercayaanmu dapat membantumu melewati masa-masa sulit, dan dapat memastikan kalau kamu aman untuk melangkah maju.

Coba untuk melakukan langkah-langkah ini ketika kamu ingin mencoba memulai hubungan kembali setelah putus dari hubungan dengan kekerasan. Namun dari semua poin di atas, ingat untuk bersabar dengan dirimu sendiri. Nggak ada waktu yang tepat untuk memulai mencinta lagi, dan kamu nggak perlu terburu-buru melakukannya. Fokus pada menyembuhkan luka dan trauma yang membekas dari hubungan abusif sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, kamu akan dapat melangkah maju dan siap menemukan cinta yang baru, yang lebih baik.

Baca Juga: Berapa Lama Luka Putus Cinta dan Perceraian Akan Sembuh?

Baca Juga: 10 Tanda Kamu Menjadi Korban Kekerasan Emosional dalam Hubungan

Baca Juga: 5 Cara Menghadapi Kekerasan Verbal dalam Pernikahan