Menurut data statistik dari Dirjen Kemenag, angka perceraian di Indonesia termasuk tinggi. Tahun 2016 saja sekitar 350.000 lebih perceraian dalam satu tahun. Tahun 2017 diperkirakan tinggi juga. Bukan hanya di indonesia, perceraian di luar negeri pun tinggi. Mengatasi hal tersebut, beberapa peneliti yang didukung oleh pengacara perceraian, Baroness Fiona Shackleton, mengadakan penelitian. Penelitian tersebut dimaksudkan untuk mengurangi angka perceraian. Tim mengumpulkan bukti dari 53 pasangan, 10 pengacara keluarga dan mediator, dan dua hakim.

Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan empat alasan utama terjadinya perceraian adalah ketidakcocokan, harapan yang nggak realistis, ketidakmampuan untuk menghadapi masalah hubungan, dan kegagalan untuk memelihara hubungan. Dari alasan tersebut, tim menyimpulkan beberapa pertanyaan yang bisa menjadi landasan agar hubungan kita dan pasangan bisa berlanjut ke jenjang yang lebih serius.

7 Pertanyaan Ini Bisa Tunjukkan Kamu Siap Menikah atau Nggak

Menurut Jan Ewing, seorang peneliti dari Universitas Exeter Law School mengatakan bahwa, hubungan yang kuat akan tercipta jika sebelumnya memiliki dasar pertemanan yang kuat. Lamanya pertemanan bisa memengaruhi kualitas relationship, Bela.

7 Pertanyaan Ini Bisa Tunjukkan Kamu Siap Menikah atau Nggak
 
Pemahaman mengenai pernikahan haruslah dipahami dengan benar oleh calon pengantin. Banyak para pasangan yang kurang paham arti menikah dan hanya melihat sisi indahnya. Padahal, menikah itu menyatukan dua ego dan dua kepala yang tentunya akan banyak membuat tantangan. Sesuai dengan janji pernikahan yang akan terus bersama dalam suka maupun duka. Faktanya, karena kurangnya pemahaman mengenai arti menikah, nggak jarang banyak sekali pernikahan yang hanya seumur jagung.
 
7 Pertanyaan Ini Bisa Tunjukkan Kamu Siap Menikah atau Nggak
 
Semua orang memiliki ekspektasi tentang pernikahan yang tentunya bisa berbeda-beda. Nah, Bela, tanyakan dulu kepada pasanganmu ekspektasi dia tentang pernikahan. Cara memenuhi ekspektasi tersebut bisa kalian rencanakan sejak awal pernikahan. Jika kalian sudah saling mengetahui ekspektasi masing-masing, maka ke depannya jika dalam pernikahan menghadapi hambatan, kalian bisa saling menguatkan.
 
7 Pertanyaan Ini Bisa Tunjukkan Kamu Siap Menikah atau Nggak
 
Sejatinya, perngertian komitmen pada masing-masing orang adalah sama, yakni janji. Komitmen sudah semestinya dibarengi dengan tindakan atas janji tersebut. Jangan sampai banyak berjanji tapi nggak melakukan apapun untuk memenuhi janji tersebut. Mengingat pernikahan merupakan janji dua insan di hadapan Tuhan, tentu janji tersebut memiliki tanggung jawab yang besar.
 
7 Pertanyaan Ini Bisa Tunjukkan Kamu Siap Menikah atau Nggak
 
Coba Bela, kamu buat daftar kecocokan kamu dan pasangan. Hal yang perlu saling kalian ketahui yakni kecocokan visi dan misi. Kecocokan kesukaan, hobi dan sebagainya bisa saling melengkapi. Nggak harus sama semua. Perbedaan juga bagus untuk saling belajar.
 
7 Pertanyaan Ini Bisa Tunjukkan Kamu Siap Menikah atau Nggak
 
Katanya cinta yang tulus itu tanpa alasan. Coba kamu pikirkan kembali apa hal yang selama ini buat kamu bertahan dan mencintai pasanganmu. Bayangkan jika hal atau alasan tersebut suatu hari nggak dimiliki pasanganmu lagi. Apakah kamu akan tetap mempertahankannya atau justru meninggalkannya?
 
7 Pertanyaan Ini Bisa Tunjukkan Kamu Siap Menikah atau Nggak
 
Menurut profesor dari University of Massachusetts Amherst ini menyatakan rata-rata manusia berbohong sebanyak 11 kali dalam sehari. Banyak yang menjadi alasan mengapa seseorang berbohong. Berbohong dalam suatu hubungan akan berdampak pada menurunnya kualitas kepercayaan pasangan kita. Memang ada beberapa alasan yang bisa dimaklumi jika kita berbohong pada pasangan. Hal tersebut untuk menjaga perasaan pasangan dan bukan atas dasar menutupi kesalahan kita.
 
Sebaiknya, sebelum menikah, coba diskusikan dahulu segala hal yang kalian tutupi selama ini. Hal tersebut dibicarakan agar saat setelah menikah nggak akan menjadi hambatan pernikahan kalian.

BACA JUGA : 5 Pengalaman Unik dalam Pernikahan Indonesia di Mata Orang Asing