"Twitter, do your magic..."

Bela, pasti kamu sudah tak asing lagi bukan dengan kalimat tersebut? Biasanya, kalimat itu digunakan oleh warganet untuk meminta bantuan demi menyelesaikan masalah mereka. Bukan hanya kalimat, lho. Ungkapan tersebut beberapa kali mampu menggerakan dan membuat perubahan yang signifikan karena kekuatan warganet di media sosial.

Sebut saja kasus pelecehan seksual di KPI yang bisa begitu booming berkat bantuan warganet, kontroversi kaburnya selebgram Rachel Vennya yang mangkir dari karantina pasca dari luar negeri, hingga boikot Saipul Jamil untuk tidak lagi tampil di televisi. Semuanya dapat begitu perhatian dari pihak terkait berkat kekuatan media sosial.

Bukan hanya masalah kasus, gerakan-gerakan positif lainnya juga dapat tersampaikan dengan baik karena bantuan dari warganet di media sosial. Mulai dari gerakan #MeToo yang mendukung korban pelecehan seksual, gerakan #TidakAtasNamaSaya untuk melawan perilaku anarkis yang selalu membawa-bawa nama agama, hingga gerakan #SahkanRUUPKS demi melindungi hak perempuan dan korban pelecehan seksual.

IWF 2021: Perhatikan 4 Hal ini untuk Memulai Aktivisme di Media SosialYouTube.com/IDN Times

Berbicara soal gerakan dan aktivisme di media sosial yang begitu booming, seorang penulis sekaligus gender equality campaigner, Kalis Mardiasih membagikan tips bagaimana caranya memulai gerakan melalui media sosial. Di acara tahunan Indonesia Writers Festival 2021, Kalis menyampaikan empat hal penting yang harus kita perhatikan agar tulisan kita di media sosial mendapat perhatian warganet dan tepat sasaran.

Apa saja hal-hal tersebut? Simak selengkapnya berikut ini.

1. Segmen pembaca atau audiens

IWF 2021: Perhatikan 4 Hal ini untuk Memulai Aktivisme di Media SosialYouTube.com/IDN Times

Sama seperti sebuah negara, di media sosial juga terdapat berbagai lapisan masyarakat yang berbeda. Mulai dari gender, pekerjaan, minat, serta usia. Jika kamu ingin menuliskan sebuah gerakan aktivisme di media sosial, kamu tidak bisa menuliskan pesan untuk semua orang yang ada di media sosial tersebut.

Kamu harus menentukan target audiens yang ingin disasar. Misalnya, usia berapa, gender-nya, pekerjaannya, serta minatnya. Jika sudah ditentukan, maka pesan yang akan kamu sampaikan dapat efektif diterima oleh audiens tersebut.

2. Jenis pesan

IWF 2021: Perhatikan 4 Hal ini untuk Memulai Aktivisme di Media SosialYouTube.com/IDN Times

Kemudian, hal selanjutnya yang harus diperhatikan adalah jenis pesan yang ingin disampaikan. Beberapa jenis pesan yang dapat kita gunakan sebagai medium tersebut yakni sebagai berikut.

  • Pesan informatif.
  • Pesan humor/meme.
  • Storytelling.
  • Pesan yang menjawab permasalahan warganet.
  • Konten "how to".

Jenis pesan ini dapat kita pilih sesuai dengan target audiens yang dituju. Misalnya, jika target audiens kita adalah anak muda atau remaja, kita bisa menggunakan jenis pesan humor atau meme. Sebab, pesan humor tersebut tidak hanya menghibur, tapi memiliki pesan tersembunyi di baliknya tanpa kesan menggurui.

Di Twitter, biasanya jenis pesan storytelling lebih banyak dipakai yang ditulis dalam bentuk thread atau utas. Jenis pesan ini disukai pembaca karena runut dan terperinci. Sehingga, audiens dapat memahaminya secara jelas.

3. Lakukan survei singkat sebelum mulai menulis

IWF 2021: Perhatikan 4 Hal ini untuk Memulai Aktivisme di Media SosialYouTube.com/IDN Times

Sebelum melempar tulisan ke media sosial, ada baiknya kita melempar survei dulu ke audiens untuk melihat bagaimana engagements yang dapat terbangun dari topik yang akan dibahas. Survei tersebut juga dapat membantu kita mempersempit topik bahasan yang akan dibahas, sehingga fokus tulisan tidak melebar ke mana-mana.

4. Platform

IWF 2021: Perhatikan 4 Hal ini untuk Memulai Aktivisme di Media SosialYouTube.com/IDN Times

Terakhir, jika semua bahan penulisan sudah lengkap, kamu hanya tinggal memilih platform yang tepat untuk mendistribusikan tulisanmu itu. Pemilihan platform ini dapat kamu sesuaikan dengan target audiens. Misalnya, jika target audiens kamu adalah generasi Z, maka akan lebih tepat jika kamu menggunakan platform berbasis video, seperti YouTube atau TikTok.

Jika target audiens kamu adalah perempuan yang hobi menulis, maka platform berbasis tulisan seperti Twitter dan Blog menjadi pilihan yang efektif.

Itulah tadi tips dari Kalis Mardiasih jika kamu ingin membuat gerakan atau aktivisme melalui media sosial. Selain tips ini, masih ada banyak lagi tips menulis lainnya yang dapat kamu simak di Indonesia Writers Festival 2021 by IDNTimes.com. Acara ini dapat kamu ikuti secara gratis melalui Zoom atau YouTube IDNTimes.com.

Baca Juga: IWF 2021: Berbagi Ilmu Menjadi Penulis dengan Samuel Ray

Baca Juga: Yuk, Kembangkan Passion Menulismu dengan 5 Tips dari Nadhifa Tsana

Baca Juga: Kamu Boleh Posting Apa Pun, Kecuali 7 Hal Ini di Media Sosial