Sudah menjadi hal yang umum kalau seorang ibu yang bertugas menjaga sang buah hatinya. Akan tetapi, saat ini seorang ayah pun juga ikut berperan mengurus anaknya dan menemani pasangannya, apalagi setelah melahirkan sang bayi.

Di beberapa negara seluruh dunia menerapkan hak untuk mendukung keterlibatan ayah dalam parenting dengan mengeluarkan cuti ayah (paternity leave).

Salah satunya Indonesia juga memberlakukan hak ini, selain cuti ibu atau maternity leave. Namun, untuk para ayah pekerja di public sector berhak mendapatkan gaji selama masa cuti ayah yang berlangsung satu bulan. Sedangkan yang bekerja pada private sector, para ayah juga mendapatkan hal yang sama dengan waktu dua hari cuti saja.

Lalu, bagaimana penerapan paternity leave di perusahaan besar, seperti Unilever? Apakah dengan periode yang sama dan akankah mendapatkan gaji yang sesuai pula?

Head of Communications Unilever Indonesia, Kristy Nelwan, menceritakan bagaimana regulasi perusahaannya berkaitan dengan cuti ayah. Ia mengatakan bahwa Unilever Indonesia memiliki lima kategori, yakni beauty and well-being, home care, personal care, nutrition, dan ice cream. Tentunya memiliki sembilan pabrik dengan 43 brand.

Dengan adanya pabrik, pasti membutuhkan operasional yang banyak. Ia mengungkapkan terdapat 4.900 karyawan yang menurut Kristy adalah jantungnya dari bisnis Unilever Indonesia sehingga mereka memperhatikan kesehatan dan kesejahteraannya. 

"Pada saat kita ngomongin soal kesehatan, kita bicara both physical sama mental. Kita juga harus mikirin engga cuma secara kesehatan badannya, tapi mentalnya bagaimana, termasuk buat mereka yang mau jadi orang tua," ucapnya.

Unilever Indonesia sudah menerapkan paternity leave sejak 2018, namun maternity leave telah memberlakukan lebih dulu sebelumnya. Di perusahaan ini, ia menyatakan bahwa ibu pekerja mendapatkan paid maternity leave selama empat bulan, sedangkan untuk ayah pekerja juga memiliki hak yang sama dengan waktu tiga minggu.

#IMGS2022: Kristy Nelwan Bagikan Inovasi Mendukung Paternity LeaveDok. IDN Media

Jika kedua orang tua yang ikut berperan mengasuh anaknya, sang buah hati akan terhindar dari hal yang buruk dan mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Namun, dari kondisi tersebut, terkadang berimbas dengan profesionalitas orang tua yang aktif bekerja.

Dalam Unilever Indonesia, ternyata memberikan kemudahan bagi orang tua pekerja sehingga mereka tetap maksimal secara profesional dan mengurus anaknya. Hal tersebut sebelumnya diukur melalui matriks employee engagement, employee productivity, dan employer of choice.

"Tentunya untuk matriks-matriks ini banyak faktornya, sih. Tapi kita sangat percaya bahwa komitmen kita untuk menjaga dan memfasilitasi kesehatan fisik dan mental employee kita itu menjadi faktor penting," ucapnya.

"Teman-teman saya ambil paternity leave pada happy, gitu, tapi itu kurang terukur, kan. Tapi kalau dilihat dari tiga matriks itu, it shows what we are doing efforts is giving good impact and it's even recorded di matriks kita," lanjutnya lagi.

Perusahaannya pun juga menyediakan daycare bagi orang tua yang sulit meninggalkan anaknya di rumah. Kristy berprinsip bahwa paternity leave adalah bagian dukungan dari rumah, sedangkan di kantor juga memberikan bentuk dukungan, seperti nursery room yang nyaman. Jam kerjanya pun juga fleksibel menyesuaikan waktu orang tua pekerja dengan anaknya.

"More than that, culture-nya juga harus di-build untuk everyone should be supportive. Menjadi orang tua itu tidak mudah," tambahnya.

Mengetahui bagaimana pekerjaan mengasuh anak adalah wajib perempuan yang melakukannya, meskipun di tengah pekerjaan sekalipun. Apalagi di Indonesia, khususnya beberapa daerah yang masih tinggi hierarki laki-lakinya. Apakah hal tersebut menguntungkan bagi masa depan negara kita?

Kristiy menjawab berdasarkan World Economic Forum bahwa partisipasi kesetaraan gender terjadi dalam perekonomian, terdapat kesempatan U$D28 triliun di GDP dunia 2025.

"Bukanlah hanya masalah hak asasi, tetapi masalah benefit yang secara ekonomi untuk kita semua. Kalau mengikuti culture dan belief-nya Unilever itu sangat eksklusif, semua punya hak dan kewajiban yang sama. Begitu juga di rumah," katanya.

Keterlibatan kedua orang tua akan lebih seimbang untuk anaknya membawakan pengaruh baik secara jangka panjang. Bayangkan jika tidak ada paternity leave, tentunya sang ayah merasa lelah setelah bekerja di kantor, belum lagi mengurus anaknya.

#IMGS2022: Kristy Nelwan Bagikan Inovasi Mendukung Paternity LeaveDok. IDN Media

Berkaitan dengan salah satu panggung di IMGS 2022, Future is Female, Kristy berpesan bahwa ada percepatan yang perlu dilakukan untuk bisa menyeimbangkan masa depan antara perempuan dan laki-laki.

"Everything that is inclusive, everything that is diverous, is always better. Kita akan bisa memastikan bahwa semua pihak bisa merepresentasikan dengan baik," ucapnya.

Meskipun sulit dengan adanya halangan beragam culture, tetap maju terus dengan berdiskusi bersama dan berani untuk speak up. Apalagi jika kita mendapatkan perusahaan yang tidak mengenakkan, maka kita yang harus membuat perubahan.

"Jangan diam aja. We have to do this and we have to do it together, tidak hanya perempuan, semua dilakukan harus bareng-bareng. In the end, it will benefit both of us, not just female," tambahnya.

Baca Juga: #IMGS2022: Perbedaan Perempuan dan Laki-Laki Saat Negosiasi

Baca Juga: #IMGS2022: Seni Negosiasi dari Sosok Putri Tanjung

Baca Juga: #IMGS2022: Kemampuan Bernegosiasi Versi dr. Sari Chairunnisa