Sabrina Rochelle Kalangie sukses mengaduk-aduk emosi penonton melalui film garapan terbarunya, Noktah Merah Perkawinan. Film remake dari sinetron berjudul sama yang tayang akhir 90-an ini mengisahkan kehidupan rumah tangga yang telah berjalan lebih dari 10 tahun. Sebagai sutradara, perempuan ini membawa alur cerita film keduanya menjadi realistis, sesuai keinginannya selama ini.

"Aku lagi cari film kedua aku itu sesuatu yang drama dan realis karena aku merasa sisi itu yang belum aku tuang dalam karya. Sementara aku itu sebenarnya drama, kehidupan aku itu drama banget. Jadi aku itu pengen mengeksplor emosi-emosi. Karena aku suka indepth ngomongin karakter sebetulnya, sama temen-temen cast itu aku suka banget. Jadinya kesempatan itu paling besarnya ketika lagi pegang film drama," katanya dalam sebuah wawancara bersama Popbela.

Bagai gayung bersambut

https://www.youtube.com/embed/1GYzfiYLa1A

Di saat dirinya tengah berpikir demikian, kesempatan tersebut kemudian tiba. Rapi Films sedang mencari seorang sutradara untuk Noktah Merah Perkawinan kala itu. Namun, ia tak lantas memberi kata iya. Oleh sang produser, Sunil Samtani, ia diajak untuk brainstorming membicarakan ke mana arah film remake ini akan dibawa.

"Kalau misalkan drama itu emang pure indepth ama karakter kalau menurut aku. Jadinya aku pengen ke arah situ karena pas itu terjadi, maksudnya pas aku berpikir seperti itu, eh, ternyata Pak Sunil menghubungi. Produsernya dari Rapi lagi cari director. Akhirnya waktu itu juga nggak langsung lock atau gimana. Diajak ketemuan dulu dan ngobrolin visinya kayak gimana nih aku pengen tau visinya Rapi gimana untuk menghidupkan IP ini lagi," ujar Sabrina.

Bagai gayung bersambut, visi Sabrina dan Rapi Films rupanya searah. Padahal, Noktah Merah Perkawinan versi baru ini bisa dibuat dengan mengusung suasana jadul (jaman dulu) untuk membawa penonton lamanya bernostalgia. Atau, kisah dramatis khas versi aslinya juga bisa dipertahankan. Namun, keduanya ternyata sama-sama berkeinginan untuk menonjolkan unsur drama, realis, dan modern.

"Jadi aku kayak, ya, udah, why not? Karena aku pribadi juga tipe yang kayak, eh, aku pengen direct film yang aku tulis pure original idea. Tapi aku bukan yang membatasi diriku, 'film kedua gue pokoknya mau nulis sendiri dulu.' Aku nggak kayak gitu. As long as aku klik sama visi, misi, dan ceritanya, aku ambil aja sih," imbuhnya.

Kolaborasi ide dengan Titien Wattimena

Alasan Sabrina Rochelle Pilih Garap 'Noktah Merah Perkawinan'popbela.com/Zikra Mulia Irawati

Dalam film ini, Sabrina juga bertindak sebagai penulis skenario bersama Titien Wattimena. Salah satu kolaborasi idenya bersama perempuan yang akrab disapa Tinut ini adalah soal pemilihan profesi Gilang (Oka Antara) sebagai arsitek lanskap. Bukan asal pilih, ternyata pekerjaan itu punya filosofi tersendiri, lho, Bela!

"Mbak Titien tulis dulu pertama the whole treatment-nya dan aku pas baca itu tuh udah seneng banget. Karena rasanya apa yang kita pengen sampein udah terangkum semua. Akhirnya kita lanjut lagi development dan jadi script. Profesi Gilang yang landscape achitecht dan ya, itu, bener. Dia tahu bagaimana mengurus taman orang, menghidupi bagaimana itu tetap indah, tapi dia sayangnya karena beberapa hal, lupa bagaimana merawat rumah tangganya sendiri," terangnya.

Serupa, profesi Ambar (Marsha Timothy) sebagai pemilik kelas keramik juga punya maknanya sendiri. Berangkat dari ide Titien, Sabrina kemudian memolesnya agar filosofi kedua pekerjaan tersebut terjahit dengan rapi dan indah ke dalam cerita. Dengan begitu, cerita dapat meninggalkan kesan yang kuat hingga akhir.

"Keramik ini sebenernya, kalau dari sisi Gilang taman itu menjadi metafora pernikahan, untuk Ambar metafora pernikahan itu ya keramik itu. Mungkin kita bisa membuat itu dengan indah, tapi itu mudah pecah. Maksudnya, banyak faktor yang bisa memengaruhi itu bisa gagal juga banyak. Jadi ketika kita hilang konsentrasi sedikit pun bikin keramik bisa hancur. Dan itu juga aku pakai untuk sampai ke ending. Arti-arti semantik itu kita jahit sampai ke belakang karena dari Mbak Titien udah menawarkan seperti itu. Ada yang berusaha aku runcingin lagi untuk tarik secara ceritanya agar itu terasa lebih kuat dan sampai ke ending ada pay off-nya," sambung Sabrina.

Wah, nggak nyangka, ya, kalau proses produksi film Noktah Merah Perkawinan benar-benar sedetail itu? Kamu yang sudah nonton, nyadar nggak kalau profesi kedua tokoh utamanya punya keterkaitan dan makna sedalam ini?

Baca Juga: Review 'Noktah Merah Perkawinan': Badai Ujian Pernikahan

Baca Juga: Ketika 7 Musisi Menjadi Sutradara untuk 3 Film Pendek, Inilah Hasilnya

Baca Juga: Review 'Miracle In Cell No. 7': Ajang Uji Klaim Make Up Waterproof