Setiap orang pernah berada di titik terendah. Latar belakang permasalahannya pun berbeda, begitu juga reaksinya. Ada yang kuat, ada pula yang menyerah hingga tak sadar menggeret diri mereka menuju ‘kehancuran’. Tunggu, jangan segera menghakimi orang-orang ini lemah menghadapi masalah mereka. Lihat Rhaka Ganisatria, si otak pembuat konten Menjadi Manusia. 

Idap Gangguan Mental, Rhaka Optimis Jadi ‘Otak’ Menjadi Manusia

Ia tak sendiri, bersama Adam, Rhaka membuat konten bernama Menjadi Manusia dalam bentuk video, tulisan, hingga puisi. YouTube, Instagram dan Spotify menjadi media yang mereka pilih. Keduanya membangun bisnis sosial bukan berawal dari hausnya kucuran rupiah yang masuk ke rekening bank mereka. 

Keduanya sadar, di dunia ini masing-masing orang punya permasalahan yang berbeda dan punya kisah hidup yang berbeda pula namun menarik untuk didengarkan oleh banyak orang. Berani menceritakan pengalaman hidup yang pahit hingga berakhir indah, diharapkan bisa membuka mata mereka yang berada di titik lemah hingga terinspirasi menjalani hidup dengan semangat dan optimis, menyadarkan seseorang kalau ia tak sendiri.

Ya, keduanya resah hidup jadi kurang berarti jika mereka tidak bisa memberi arti bagi orang banyak. Omong kosong? Begini, pernah dengar seorang pria mengidap gangguan mental, yang membuat otaknya selalu sibuk memikirkan banyak hal, sampai-sampai harus rajin bertemu psikiater, hingga akhirnya ia mengonsumsi tembakau gorila sebagai jalan pintas? Ia salah langkah, tembakau gorila bukan membuat otaknya lebih tenang, malahan ia harus dirawat di RS Jiwa. Tubuhnya diikat di tempat tidur.

Idap Gangguan Mental, Rhaka Optimis Jadi ‘Otak’ Menjadi Manusia

Cerita di atas bukan film juga bukan kisah sinetron. Tapi kisah nyata dan garis hidup Rhaka. Setelah sadar, ia tak langsung menyerah, ia sadar mau dibawa kemana hidupnya yang terasa kurang berarti jika ia menghabisi usia mudanya karena obat-obatan terlarang tadi. Maka terbentuklah ‘Menjadi Manusia’. 

Pengalaman getir jadi guru baginya untuk jalani hidup makin bermakna. Simbol koma pada logo ‘Menjadi Manusia’ pun punya arti mendalam, “Sebab manusia terus berproses, gagal, lalu bangkit lagi. Jatuh lalu bangun lagi, ada komanya. Masalah atau kegalauan apa pun yang kita hadapi, jangan pernah berhenti untuk hadirkan koma. Titik ada dalam hidup hanya karena maut,” ucap Rhaka pada sesi talkshow The Value of Impact di Playfest 2019 yang diselenggarakan di Parkir Selatan Gelora Bung Karno.

Ya, Menjadi Manusia hadir untuk menyadarkan masyarakat Indonesia membaca kondisi atau pengalaman hidup seseorang dengan open minded. Konten Menjadi Manusia yang selalu mengangkat isu sensitif hingga sangat personal justru membuat penikmatnya mendapat sudut pndang berbeda dan makin merasa bahwa kita manusia yang punya jalan hidup menarik dengan problema yang ada, asal terus jalani hidup dengan optimis dan nggak gampang menyerah dengan keadaan.

Kalau kamu ingin dapat insight menarik lainnya, yuk datang ke Playfest 2019 yang diselenggarakan hingga 25 Agustus besok. Hari kedua nggak kalah seru kok, sebab ada Joko Anwar hingga Naif!

Baca Juga: 5 Pengalaman Seru yang Pasti Kamu Dapatkan di Playfest 2019