Mendengar alunan musik gamelan di tengah kota besar seperti di Jakarta hanya bisa kita jumpai dikala pesta pernikahan adat Jawa atau disela seni pertunjukan. Padahal, gamelan sudah diakui oleh UNESCO sejak tahun 2014, Bela. Lalu perlukah kita sebagai bangsa Indonesia malu kalau tahu keindahan bunyi dan vibrasi yang dihasilkan dari gamelan ternyata justru diperhatikan dan dimanfaatkan oleh negara lain bukan sekedar sebagai “alat musik”?  

1. Jadi Sarana Terapi Narapidana di Inggris

 
Katherine Haigh, Direktur Eksekutif Good Vibrations yang sudah menyelenggarakan gerakan ini selama 10 tahun sudah mempelajari gamelan saat ia kuliah pada tahun 1998 di University of York, Amerika Serikat. Bahkan melansir Liputan6 Good Vibrations dalam 10 tahun terakhir sudah melakukan pelatihan kepada lebih dari 4.000 narapidana di puluhan lembaga pemasyarakatan di Inggris dengan harapan para narapidana memiliki jiwa yang lebih tenang dan bisa mengembangkan keterampilan mereka. Misi yang sangat mulia!

2. Jadi Sarana Terapi bagi Penderita Skizofrenia di Meksiko

 
Di Meksiko, tepatnya di Instituto Nacional de Psiquiatria Ramon de la Fuente, lembaga yang berada di bawah Kementerian Kesehatan menyelenggarakan pergelaran musik gamelan Jawa sebagai terapi bagi penderita skizofrenia pada tahun 2012 di Mexico City. 

3. Jadi Festival Besar di Inggris

 
Jangan heran kalau Indonesia menggelar “International Gamelan Festival (IGF)” justru di dua kita Inggris Raya, yakni London dan Glasgow Skotlandia pada 5 - 15 September mendatang. Sebab, banyak pula orang luar di sana berkonsentrasi memainkan alat musik gamelan, Bela. Nantinya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan akan memberikan penghargaan atas nama Bangsa Indonesia, kepada tiga pelopor gamelan Inggris yaitu Alec Roth, Neill Sorrell, dan Anne Hunt.
 
Siap lestarikan warisan Indonesia seperti orang asing di atas Bela?
 

BACA JUGA: Keren, Taylor Swift Nge-rap di Single Terbaru Ready For It