Minggu ini, tepatnya pada tanggal 8 November kancah sinema Indonesia akan menghadirkan film biopik berjudul “A Man Called Ahok”. Film yang diadaptasi dari buku berjudul sama ini disutradarai Putrama Tuta yang sebelumnya pernah mengarahkan film “Catatan Harian Si Boy” tahun 2011 silam.

Sosok Basuki Tjahaja Purnama menjadi tokoh sentral dalam film diperankan oleh Daniel Mananta (Ahok dewasa) dan Eric Febrian (Ahok kecil). Keseluruhan proses pembuatan film yang memakan waktu lebih dari setahun ini menyimpan banyak cerita tersembunyi di dalamnya.

Daniel Beberkan 7 Fakta Proses Pembuatan Film A Man Called Ahok

Selama sebulan, tim casting dikirim langsung ke Belitung untuk mencari Putra Belitung yang bisa memerankan karakter anak-anak dalam film ini.

Selain karena faktor jarak, kesulitan juga ada pada pengamatan karakteristik puluhan anak yang paling cocok dengan sosok Ahok semasa kecil. Sampai akhirnya, Eric Febrian datang ke lokasi casting. Kesan pertama Eric sebagai anak yang rebel tapi pintar, juga latar belakang keluarganya yang sama dengan Ahok membuat tim casting semakin yakin untuk memilihnya.

Daniel Beberkan 7 Fakta Proses Pembuatan Film A Man Called Ahok

Saat pertama kali melakukan casting pertama Daniel mengaku nggak nyaman melihat aktingnya sendiri.

“Ngerasa kaya ih VJ Daniel lagi berusaha bikin suaranya mirip Ahok. Kaya gagal banget personifikasiin dia sama sekali,” ujar Daniel.

Kemudian selama seminggu, Daniel memutuskan untuk menelpon acting coach-nya dan menonton semua video Ahok untuk memerhatikan detil-detil kecilnya. Kabar baik datang, pada casting kedua Daniel langsung diterima untuk memerankan tokoh utama.

Daniel Beberkan 7 Fakta Proses Pembuatan Film A Man Called Ahok

Sebagai seorang presenter kondang, Daniel mengaku akting merupakan bagian dari kesehariannya meskipun porsinya berbeda. Sang sutradara pun menambahkan cerita, bahwa selama proses syuting nggak ada yang memanggil “Daniel” di set. Kerjasama tim itu bertujuan untuk membuat Daniel melepaskan karakter VJ yang sudah melekat di dalam dirinya.

“TV dan film itu dua hal yang sangat berbeda ya, saat menjadi seorang presenter TV it’s all about you, dia harus menarik atensi penonton kepadanya. Tapi, saat lu main dalam sebuah film, lu harus bisa membangun cerita,” katanya.

Daniel Beberkan 7 Fakta Proses Pembuatan Film A Man Called Ahok

Selama proses reading, Daniel mengaku penasaran pada cara Ahok berargumen langsung dengan Ayahnya. Ahok pun menjawab, “Gue bakal marah balik, gue bakal ngomong balik. Kalau misalkan gue yakin kalau misalnya gue benar, udah pasti gue akan bertahan untuk mendapatkannya. Itu kenapa kami bukan keluarga chinese pada umumnya." Satu pernyataan dari Ahok itu akhirnya memengaruhi akting Daniel dalam meresapi karakternya.

Daniel Beberkan 7 Fakta Proses Pembuatan Film A Man Called Ahok

“Misalnya ada yang nanyain gimana pendapat gue tentang current event politik yang sedang terjadi gitu ya, gue akan jujur ngomong well to be honest gue nggak terlalu peduli karena gue sebenarnya bukan politisi, tapi kalo lo nanya pendapat itu, berarti akting gue sangat meyakinkan dong,” kata Daniel sambil tertawa.

Daniel berharap penonton nggak menyimpulkan pandangan politiknya seperti apa tapi fokus pada sisi hiburan dan pesan dari film drama keluarga ini.

Daniel Beberkan 7 Fakta Proses Pembuatan Film A Man Called Ahok

Ketika ditanya apa scene favoritnya Daniel menjawab, “Personally i feel like kalau misalkan lagi orasi itu emang gue jago banget. Itu udah kaya natural banget, udah kaya gue nge-mc aja gitu kan."

Daniel Beberkan 7 Fakta Proses Pembuatan Film A Man Called Ahok

Putrama Tuta mengatakan, “Jujur bukan Daniel Mananta. Banyak lah yang mau jadi Ahok tapi memang nggak ada sih kandidat pastinya. Basically, kita cari yang terbaik aja dan semuanya melalui proses casting kok.”

Emir Hakim selaku produser dalam film ini pun menambahkan, “Kalau buat saya yang paling matter itu yang terakhir. Seperti filosofi, Have a beautiful sunset in life, not a beautiful sunrise. Karena kalo sunrise udah pasti terbit kan, tapi kalo sunset belum tentu kita bisa selalu melihat matahari terbenam cantik”.

 

Penulis : Tyas Hanina

Editor : Rara Peni Asih

Baca Juga: Dibintangi Daniel Mananta, Simak 5 Fakta di Balik Film A Man Called Ahok