Perkembangan teknologi memang memudahkan kehidupan kita dalam beragam aspek, salah satunya ekonomi. Industri digital yang semakin maju punya banyak dampak positif untuk membantu usaha lokal. Perlahan tapi pasti, UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) negeri ini mulai memasuki pasar internasional, lho!

Kajian penting tentang ini didiskusikan dalam acara “Pandangan Bisnis Dan Lanskap E-Commerce Di Indonesia” bertempat di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat pada (1/11). Acara ini turut diramaikan oleh tokoh-tokoh berkompetensi seperti Semuel Abrijani selaku Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, pihak Lazada Indonesia Alessandro Piscini dan Monika Rudijono, juga Global Chief Economist & Managing Director EIU di Asia, Simon Baptist.

Buat kamu-kamu yang hobi scrolling beranda e-commerce ada baiknya meluangkan waktu untuk membaca lima poin penting ini nih.

Siap-Siap Sambut Gelombang Ekonomi Digital yang Untungkan Bisnis Mikro

Menurut Semuel Abrijani, untuk memajukan perekonomian nasional nggak cukup menunggu gerakan dari pemerintah saja. Semua pihak harus bersinergi, mulai dari pemerintah, masyarakat baik yang menjadi produsen atau konsumen, dan pihak swasta seperti perusahaan e-commerce.

“Peran pemerintah di sini nggak lagi jadi regulator, tapi juga jadi fasilitator. Salah satunya untuk membantu UMKM menjual produk-produknya,” ujar Semuel.

Saat ini jumlah UMKM yang sudah go online ada di kisaran 6 juta. Target 2 tahun ke depan adalah meningkatkan jumlah UMKM yang bertransformasi ke arah digital menjadi 8 juta.

Siap-Siap Sambut Gelombang Ekonomi Digital yang Untungkan Bisnis Mikro

Dikutip dari Simon Baptist, negara-negara di Asia Tenggara mengalami perkembangan ekonomi yang cepat selama 2 tahun ini. Simon bahkan berekspektasi bahwa hal ini akan terus berlanjut hingga 5 tahun ke depan. Khususnya, di Indonesia.

Siap-Siap Sambut Gelombang Ekonomi Digital yang Untungkan Bisnis Mikro

Meski mengalami beberapa kendala dalam penyebaran internet yang nggak merata, Indonesia memiliki jumlah konsumen e-commerce yang besar di Asia Tenggara, khususnya konsumen perempuan. Menurut penelitian, 63% responden perempuan mengakses e-commerce setiap hari. Bahkan 30% dari mereka mengaksesnya dua kali dalam sehari. Mungkin termasuk kamu?

Setiap tahunnya, jumlah konsumsi swasta di Indonesia tumbuh sekitar 10%. Dan ternyata, nggak cuma kita-kita aja yang senang belanja! Katanya, pemerintah juga akan meningkatkan jumlah belanja sosial menjelang pemilihan presiden mendatang.

Siap-Siap Sambut Gelombang Ekonomi Digital yang Untungkan Bisnis Mikro

One thing to remember, this is not about Jakarta. So, we look forward for the next cities in Indonesia,” tutur Simon. Selain, DKI Jakarta ada kota-kota besar lainnya yang menjadi pusat transformasi bisnis digital. Sebut saja, Surabaya, Bandung, juga Medan. Dengan populasi yang banyak dan tersebar pada pulau-pulau, kita nggak bisa melupakan saudara-saudara kita.

Untuk menyebarkan semangat transformasi ini, pemerintah telah mengeluarkan beberapa aturan dan inovasi baru. Misalnya, Palapa Ring Project, e-commerce road map, inclusive digital economy, dan program-program lainnya yang mendorong penjual tradisional untuk mulai berjualan di internet. Upaya-upaya pemerintah ini bertujuan untuk mempersiapkan masyarakat untuk lebih melek digital dan secara nggak langsung ikut memperbaiki infrastruktur.

Siap-Siap Sambut Gelombang Ekonomi Digital yang Untungkan Bisnis Mikro

Tahun 2030, penduduk Indonesia diduga akan mendapat pendapatan rata-rata 19.000 US Dollar. Sekarang ini, jumlah pendapatan rata-rata baru mencapai 7.000 US Dollar. Peningkatan yang signifikan ini katanya juga faktor dari kemajuan ekonomi yang didigitalisasi.

Hal-hal yang akrab dengan keseharian kita seperti e-commerce ternyata juga punya peranan penting untuk Indonesia. Wah, ternyata topik ekonomi nggak melulu berat ya, Bela?

 

Penulis : Tyas Hanina

Baca Juga: It’s Shopping Time! Simak 7 Cara Cerdas Belanja Online Saat Harbolnas