Review 'Mummies'

Review 'Mummies': Kritik Sosial Soal Terbatasnya Perempuan Meraih Cita

Kritik sosial berbalut kisah yang lucu dan ringan

Review 'Mummies': Kritik Sosial Soal Terbatasnya Perempuan Meraih Cita

Kesetaraan gender memang sudah mulai diterapkan di beberapa bidang pekerjaan. Bahkan, di beberapa perusahaan, gender tak lagi dipandang sebagai sesuatu yang penting karena yang menjadi poin utama adalah keahlian dan keterampilan yang dimiliki oleh seseorang. Meski saat ini perempuan sudah begitu bebas memilih karier untuk ditekuninya, tetap saja di belahan dunia lain masih ada saja aturan yang membuat perempuan harus mengubur mimpi mereka karena berbenturan dengan tradisi.

Secara gamblang, apa yang sudah saya sampaikan di paragraf sebelumnya digambarkan dengan begitu detail lewat film animasi terbaru Warner Bros, Mummies. Mengambil dua latar waktu yang begitu berbeda dalam satu film yang sama, Mummies bukan hanya menghibur, tapi juga menjadi kritik sosial soal keterbatasan perempuan meraih cita-citanya. 

Sinopsis: saat perempuan harus merelakan mimpinya demi aturan turun temurun

Review 'Mummies': Kritik Sosial Soal Terbatasnya Perempuan Meraih CitaDok. Warner Bros

Mummies berkisah tentang Princess Nefer (Eleanor Tomlinson) yang menginjak usia 1000 tahun. Bagi kaumnya yang hidup di bawah tanah dan telah berusia 3000 tahun lebih, usia Princess Nefer adalah usia ideal untuk menikah. Ayahnya, King Pharaoh (Sean Bean) telah menyiapkan burung phoenix yang nantinya akan memilih jodoh untuk Princess Nefer.

Secara tak sengaja, burung phoenix itu memilih Thut (Joe Thomas) pensiunan kusir. Thut tak lagi turun ke arena balapan karena trauma. Hal itu ternyata tak membuatnya berhenti bersikap sombong. Ia bahkan menjadi semakin arogan dan merasa sangat terhormat bisa menikahi anak dari King Pharaoh.

Untuk bisa menikahi Princess Nefer, Thut diberi tantangan oleh Sang Raja. Ia harus menjaga cincin warisan kerajaan selama tujuh hari sebelum hari pernikahan tiba. Sialnya, cincin tersebut dicuri oleh arkeolog gila bernama Lord Carnaby (Hugh Bonneville) dan membawanya ke masa kini.

Di satu sisi Princess Nefer merasa senang cincin tersebut hilang. Itu artinya ia tak perlu menikah dan bisa mewujudkan mimpinya menjadi seorang penyanyi. Namun, ia juga merasa khawatir karena hukuman berat menanti Thut jika ia tak bisa menyelesaikan tantangan yang diberikan King Pharaoh. Lantas, apa yang akan Princess Nefer lakukan?

Pesan yang 'berat' di balik film anak-anak

Review 'Mummies': Kritik Sosial Soal Terbatasnya Perempuan Meraih CitaDok. Warner Bros

Sekilas, Mummies memang ditujukan untuk anak-anak. Bahkan, rating penontonnya saja ditujukan untuk semua umur. Namun, di balik film yang penuh warna dan mengambil latar waktu di masa kerajaan Mesir ini, Mummies menyimpan pesan besar dan cukup berat. Meski begitu, sang sutradara Juan Jesús García Galocha berhasil membuat film ini terasa ringan saat ditonton oleh anak-anak walau terselip pesan moral yang besar.

Selain itu, penulis naskah Jordi Gasull dan Javier López Barreira juga berhasil meramu cerita dengan begitu ringan. Sarat akan kritik sosial soal perempuan dalam mencapai mimpinya, Jordi Gasull dan Javier López Barreira menyampaikannya dengan jernih, mudah dipahami, tapi tak ada kesan menggurui.

Sulitnya mengejar cita-cita karena terhalang tradisi

Review 'Mummies': Kritik Sosial Soal Terbatasnya Perempuan Meraih CitaDok. Warner Bros

Satu hal yang saya soroti dari film ini sejak menit pertama adalah kritik sosial yang benar-benar menyindir tradisi yang masih mempersulit perempuan untuk mencapai mimpi mereka. Princess Nefer memiliki bakat menyanyi yang bagus, namun orang-orang di sekitarnya tidak mempedulikan hal itu dan malah menyuruhnya untuk menikah karena itu akan menjadi sebuah kebanggaan.

Menikah atau tidak itu adalah pilihan bagi setiap orang, termasuk perempuan. Namun, tidak ada salahnya bukan jika perempuan juga boleh mengejar cita-citanya dan menjadi dirinya sendiri. 

Dalam film ini, Princess Nefer tak ingin mengubah tradisi yang sudah ada sejak ribuan tahun. Namun, ia ingin tetap bisa mencapai impiannya menjadi penyanyi tanpa harus melanggar tradisi yang sudah ada. Sulit? Memang. Tapi, berkat kegigihannya, ia bisa melakukan keduanya sehingga, baik dirinya maupun keluarganya, sama-sama tak ada yang dirugikan.

Review 'Mummies': Kritik Sosial Soal Terbatasnya Perempuan Meraih CitaDok. Warner Bros

Terlepas dari pesan moralnya yang 'berat', Mummies tetap ringan dan menyenangkan untuk disaksikan bersama seluruh anggota keluarga. Para karakternya yang lucu, serta soundtrack-nya yang easy listening, membuat film ini menjadi paket lengkap untuk ditonton.

https://www.youtube.com/embed/ozcuheH9cDI

Baca Juga: Review ‘Balada Si Roy’: Saat Hidup Terasa Pelik dengan Beragam Konflik

Baca Juga: Review 'Sakra': Ungkap Kebenaran dalam Pertumpahan Darah

Baca Juga: Review ’Plane’: Aksi Heroik Pilot Selamatkan Nyawa Penumpang

  • Share Artikel

TOPIC

Related Article

Review ‘Wolf Pack’: Misi di Balik Adanya Unit Antiteroris

Review ‘Wolf Pack’: Misi di Balik Adanya Unit Antiteroris

trending

Trending

Mengenal 12 Nama Bulan dalam Kalender Islam dan Keutamaannya

Mengenal 12 Nama Bulan dalam Kalender Islam dan Keutamaannya

This week's horoscope

horoscopes
Aquarius

Ramalan Zodiak Aquarius Hari Ini - Zodiak Aquarius berasal dari k... read more

See more horoscopes here

Exclusive

Biar Kuku Nggak Rusak, Ini Tips Menggunakan Nail Extension yang Tepat

Biar Kuku Nggak Rusak, Ini Tips Menggunakan Nail Extension yang Tepat

Lutesha Bicara Soal Body Shaming: Fokus Dulu ke Diri Sendiri!

Lutesha Bicara Soal Body Shaming: Fokus Dulu ke Diri Sendiri!

Tidak usah hiraukan pendapat orang lain

Latest from Inspiration

7 Potret Kontrakan Sederhana Aji Yusman, Belum Ada Kasur

7 Potret Kontrakan Sederhana Aji Yusman, Belum Ada Kasur