Setelah Avengers menyelesaikan sekuelnya di tahun 2019 ini, X-Men juga merilis penutup dari seluruh rangkaian filmnya dalam sekuel yang berjudul X-Men: Dark Phoenix. Selain penutup, film ini juga menjadi film terakhir Marvel dan Fox sebelum akhirnya memulai kerja sama dengan Disney Studio.

Bagaimana film yang baru tayang pada minggu kedua Juni 2019 tersebut? Simak review-nya berikut ini.

Ketika Seorang Mutan Mendapat ‘Tambahan’ Kekuatan Luar Biasa

Review Film X-Men Dark Phoenix: Sekuel Terakhir yang Kurang GregetIMDB.com

Dark Phoenix berkisah tentang Jean Grey (Sophie Turner) yang terkena kekuatan misterius saat ia dan anggota X-Men yang lain berada dalam misi penyelamatan astronot dari terjangan suar matahari. Kekuatan yang mengenai Jean tersebut membuatnya semakin kuat, tapi ia tidak dapat mengendalikan kekuatan tersebut dan malah melukai semua teman-teman serta orang di sekitarnya.

Kekuatan dalam tubuh Jean menarik makhluk jahat lain. Vuk (Jessica Chastain) beserta kelompoknya memburu Jean untuk membantunya menguasai dunia. Jean yang berada di dalam genggaman Vuk berubah menjadi jahat dan malah balik menyerang teman-temannya.

Di saat yang sama, karena kekuatan besar tersebutlah masa lalu Jean terkuak. Masa lalunya melibatkan Professor Charles Xavier (James McAvoy) dan ayahnya, yang membuat Jean semakin tidak bisa mengendalikan diri.

Alur yang Melompat dan Tak Mulus

Review Film X-Men Dark Phoenix: Sekuel Terakhir yang Kurang GregetIMDB.com

Jujur saja, sebagai bukan penggemar film superhero dan tidak mengikuti sekuel X-Men sejak awal, Dark Phoenix masih bisa diikuti dan dipahami. Meski minim pengenalan ulang karakter, namun film ini sama sekali nggak membuatmu bingung tentang siapa saja tokoh dan perannya yang terlibat.

Satu hal yang saya sayangkan adalah alurnya yang melompat-lompat dari satu scene ke scene yang lainnya yang membuat saya sedikit kebingungan. Misalnya saja pada adegan di mana Jean bertemu dengan Vuk di sebuah bar. Saat itu, Jean mengendalikan pikiran orang-orang di dalam bar agar mereka melihatnya menjadi sosok pria tua. Namun, saat Vuk datang ia langsung berubah menjadi dirinya lagi tanpa ada transformasi atau penjelasan yang berarti.

Alur melompat lainnya yang membuat saya bingung adalah perpindahan dari satu scene ke scene lainnya secara tiba-tiba dan tak mulus. Misalnya pada adegan Jean dan Vuk di bar yang tiba-tiba saja langsung berpindah ke markas X-Men yang memperlihatkan para anggota X-Men yang sedang berunding. Jika kita nggak terlalu konsen menontonnya, dipastikan kita akan kebingungan dengan alur ceritanya.

Film dengan Kerugian Mencapai Rp1 Triliun di Minggu Pertama

Review Film X-Men Dark Phoenix: Sekuel Terakhir yang Kurang GregetIMDB.com

Sebagai film terakhir dari X-Men Saga, Dark Phoenix diharapkan menjadi penutup yang manis dan berkesan bagi para penggemar X-Men. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Film ini merugi di minggu pertama penayangannya.

Melansir Screenrant.com, Dark Phoenix hanya mengantongi $120 juta atau setara dengan Rp1,72 triliun. Padahal biaya produksi dari film ini mencapai $350 juta atau Rp5 triliun. Jumlah ini membuat Dark Phoenix menjadi sekuel X-Men paling merugikan yang pernah dibuat sepanjang masa.

Review Film X-Men Dark Phoenix: Sekuel Terakhir yang Kurang GregetIMDB.com

Dibandingkan film X-Men lainnya, Dark Phoenix memang menjadi film terburuk yang pernah ada. X-Men: Days of Future Past, misalnya berhasil meraih $262 juta atau Rp3,7 triliun dan X-Men: Apocalypse $166 juta atau setara dengan Rp2,3 triliun.

Melihat review dari para kritikus film dan pendapatan yang diraihnya, Dark Phoenix memang mengecewakan para penggemarnya. Padahal dalam film terakhir ini, seharusnya Dark Phoenix bisa memberikan sesuatu yang spesial dan berkesan untuk para penontonnya.

Untuk kamu yang sudah menonton, bagaimana pendapatmu tentang film ini? Tulis di kolom komentar ya!

Baca Juga: Review Film Ghost Writer: Sukses Bikin Takut, Capek dan Nangis Terharu