Kemarin, 19 Januari 2022, media sosial dihebohkan dengan unggahan poster festival musik yang bertajuk When We Were Young Festival. Acara musik yang diselenggarakan pada 22 Oktober 2022 di Las Vegas Festival Grounds. 

Festival musik ini menjadi sangat trending di media sosial karena menghadirkan musisi papan atas tahun 2000-an. Seperti My Chemical Romance, Paramore, Avril Lavigne, Bring Me The Horizon, Dashboard Confessional, dan Saosin. 

Di industri musik internasional, musisi-musisi tersebut mengusung genre emo sebagai warna musik mereka. Berbicara soal musik emo, genre musik ini memiliki sejarah yang panjang, kontroversi, serta deretan lagu emo paling sukses sepanjang masa. Bagaimana kisah tersebut? Berikut penjelasan singkatnya.

Sejarah singkat musik emo

Mengenal Emo, Genre Musik yang Diusung When We Were Young FestivalDok. Internet

Musik emo merupakan cabang dari genre hardcore yang dicirikan dengan lirik dan ekspresi yang sangat emosional. Genre musik ini pertama kali muncul di pertengahan tahun 1980-an di Washington D.C, Amerika Serikat. Tak hanya hardcore, ada pula yang menganggap bahwa emo merupakan turunan dari genre rock alternatif, punk rock, dan pop punk.

Secara karakteristik, musik emo kebanyakan didominasi dengan permainan gitar yang komplek, serta dinamika musiknya yang begitu ekstrem.

Dari segi lirik, lagu-lagu bergenre emo sangat emosional dan sangat pribadi. Biasanya lirik-lirik mereka bercerita tentang pengakuan, hubungan cinta yang gagal, rasa sakit, rasa tidak aman, hingga kebencian.

Genre emo mengalami peningkatan popularitas yang cukup pesat di awal tahun 2000-an. Di tahun-tahun ini, muncul beragam band emo yang langsung menempati posisi teratas dalam tangga lagu. Seperti, My Chemical Romance, Fall Out Boy, AFI, Relient K, Plain White T's, The Red Jumpsuit Apparatus, Boys Like Girls, Panic! at the Disco dan Paramore.

Kontroversi musik emo

Mengenal Emo, Genre Musik yang Diusung When We Were Young FestivalDok. Internet

Meski memiliki banyak penggemar dan menjadi salah satu musik populer, emo ternyata pernah memiliki stereotip negatif. Musik ini bahkan sempat dituduh sebagai penyebab kematian seorang remaja berusia 13 tahun bernama Hannah Bond di tahun 2008.

Hannah sangat terobsesi dengan musik emo dan mengikuti gaya emo setelah mendengarkan musik-musik My Chemical Romance. Bahkan, Hannah sempat memotong pergelangan tangannya sebagai bentuk komitmennya mengikuti gaya emo.

Puncaknya, Hannah ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara menggantung diri. Sejak saat itu, musik emo mendapatkan pandangan negatif dan kontroversi.

Musik emo yang mengubah pandangan dunia

Mengenal Emo, Genre Musik yang Diusung When We Were Young FestivalDok. Internet

Tak ingin musik emo dipandang negatif, musisi-musisi yang mengusung genre ini pun ramai-ramai mengubah pandangan tersebut. Fall Out Boy, Panic! At The Disco, AFI, dan My Chemical Romance menjadi band yang berusaha keras mengubah stereotip negatif itu.

Gerard Way, vokalis My Chemical Romance, secara terbuka menyatakan ketidaksukaannya terhadap asosiasi emo dengan mode lebih dari musik, dengan mengatakan bahwa musik emo saat ini sudah berbeda dengan musik emo di masa lalu. Musik emo saat ini merupakan bentuk ekspresi diri dan seni.

Beberapa lagu emo yang sangat populer di awal tahun 2000-an adalah "I'm Not Okay (I Promise)", "Hands Down", dan "Lying is the Most Fun a Girl Can Have Without Taking Her Clothes Off".

Sebelum ikut menikmati When We Were Young Festival nanti, apakah kamu tertarik mendengarkan musik emo, Bela?

Baca Juga: Spotify Wrapped 2021, Pamungkas Rajai Musik Indonesia Selama Dua Tahun

Baca Juga: Digarap Anton Ismael, Ini BTS Video Musik 'Pepatah' Milik Rizky Febian

Baca Juga: Popbela's Playlist: Ungkapan Hati yang Tercurah Lewat Musik