Bagaimana menurut kamu ketika melihat sosok perempuan memimpin suatu pekerjaan, yang mayoritas lebih banyak laki-lakinya? Stigma pun bermunculan di lingkungan sosial kalau pemimpin perempuan itu banyak dramanya. Akan tetapi, jika perempuan terlalu tegas, justru akan dicap bossy.

President Director of Java Festival Production, Dewi Gontha, yang menjadi salah satu pemimpin perempuan dalam bidang promotor, membenarkan adanya hal tersebut. Ketika perempuan meminta sesuatu terus-menerus, maka orang lain menilai bahwa perempuan itu tidak sabar menunggu. Jika laki-laki yang melakukan hal demikian, orang lain pun menganggap bahwa laki-laki itu gigih.

Dewi Gontha mengungkapkan bedanya perempuan dengan laki-laki adalah dari bagaimana masing-masing bekerja. Contohnya, perempuan lebih menggunakan perasaannya atau emosional ketimbang laki-laki.

"It still does exist, apakah ke depannya seharusnya bisa berubah? Itu tergantung karakter masing-masing karena you choose. Mau menjadi pimpinan yang disukai atau menjadi pimpinan yang penting sukses, disukain atau nggak disukain itu nomor dua," tutur Dewi Gontha.

#IMGS2022: Hal yang Dirasakan Dewi Gontha Menjadi Woman LeaderDok. IDN Media

Dewi Gontha mengakui bahwa dirinya tidak mempunyai latar belakang untuk menyelenggarakan suatu acara. Oleh karena itu, ia mendapatkan bimbingan dari ayahnya dan juga timnya yang sudah berkiprah sejak tahun 80-an akhir.

"Dari dia (ayah) cara mengelola perusahaan, dan teman-teman lain adalah secara teknis. Itulah yang saya dapat di awal dan itu yang saya masih belajar sampai sekarang, hingga pass on ke staff lain atau bahkan volunteer yang ada di kantor," ujarnya.

#IMGS2022: Hal yang Dirasakan Dewi Gontha Menjadi Woman LeaderDok. IDN Media

Mengenai privilege, bagi Dewi Gontha itu hanyalah pintu pertamanya saja. Ketika kita yang punya keuntungan itu tidak bisa melakukan pekerjaan, rasanya akan menjadi beban bagi diri sendiri. Intinya adalah meyakinkan orang lain bahwa kita bisa melakukan suatu pekerjaan, bukan karena mempunyai privilege itu.

"Dengan nama belakang itu mungkin saya lebih mudah untuk membuat jadwal, tapi what happens after that, ya hasil kerja sendiri, bukan karena itu melulu," ucapnya.

#IMGS2022: Hal yang Dirasakan Dewi Gontha Menjadi Woman LeaderDok. IDN Media

Untuk memiliki jiwa leadership, itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Dewi Gontha membagikan pengalamannya di kantor bahwa karyawan muda lebih berani dalam mengungkapkan pendapat. Ia juga mengungkapkan kalau yang muda lebih cepat untuk membuktikan mereka mampu dibanding karyawan yang sebaya dengannya.

"Leadership itu dimulai dari lingkungan terdekat. Leadership bukan dari hal yang besar," pungkasnya.

Berbicara terkait stigma perempuan harus sesegera mungkin menikah di usia 25 tahun, ia tidak menyetujui hal tersebut. Menurutnya, perempuan itu mempunyai kelebihan dan mampu melakukan lebih banyak.

"Perempuan memang diciptakan mempunyai kelebihan, so balancing about personal life and professional life. Dengan itu pun bisa mengatur waktu untuk pekerjaan, walaupun untuk anak maupun untuk dirinya sendiri. Harusnya kita bangga sebagai perempuan bisa melakukan itu semua," ucap Dewi Gontha.

"Kita memang diberikan kapasitas untuk melakukan itu semua. Jadi, itu tidak benar bahwa perempuan tidak mampu melakukannya. Justru kita seharusnya bisa melakukan lebih banyak," tambahnya.

Nah, dari ilmu inpiratif Dewi Gontha ini, apakah kamu berkeinginan menjadi seorang pemimpin di suatu pekerjaan, Bela?

Baca Juga: #IMGS2022: Hal Positif dari Kepemimpinan Perempuan ala Alina Darmadi

Baca Juga: #IMGS2022: Yura Yunita dan Tantangannya Sebagai Musisi Perempuan

Baca Juga: #IMGS2022: 7 Tips Keuangan untuk Para Sandwich Generation