Bolak-balik syuting film berbagai judul hingga sibuk keliling kota mempromosikan film yang ia bintangi memang sudah jadi rutinitas yang sering dilakukan oleh Ayushita, seorang aktris yang terpilih menjadi PopCreator Popbela di bulan Agustus 2017 ini.

Meski Ayushita sudah memulai kariernya sejak ia berumur tiga tahun, ia tak menyerah begitu saja lalu bosan dengan kariernya di dunia showbiz yang telah ia jalani kurang lebih selama 25 tahun. “Absolutely I will stay,” jawab aktris berbulu mata lentik ini tanpa ragu ketika ditanya apakah ia akan meninggalkan dunia yang sudah membesarkan namanya ini.

Apalagi belakangan ini nama Ayu terus muncul di beberapa film terbaru, bahkan di setiap film yang ia bintangi, Ayu mengaku selalu berhadapan dengan berbagai tantangan. Terlebih lagi di sebuah scene film garapan Hanung Bramantyo berjudul “The Gift,” Ayu harus melawan phobia-nya yang harus menyelam dan diam cukup lama di dasar kolam!

Menyerahkah Ia? Sebelum kamu mengetahui bagaimana Ayu melawan rasa traumanya, kamu bisa simak pengalaman Ayu berakting secara detil di bawah ini, Bela.

1. Belakangan ini lagi sibuk apa?

"Film, aku baru saja menyelesaikan produksi film karya Hanung Bramantyo, judulnya The Gift. Lalu akan launching lipstik, lagi ada project yang mau diluncurkan juga tapi belum bisa cerita. Lalu mungkin akan masuk ke post production untuk film Satu Hari Nanti. Syutingnya udah selesai dari akhir tahun yang lalu tapi belum masuk post production, jadi baru mau masuk dubbing dan segala macem. Lawan mainku ada Ringgo Agus Rahman, Adinia Wirasti, Deva Mahendra."

2. Di antara semua film yang pernah dibintangi, film apa sih yang menurut kamu paling susah dan butuh perjuangan banget buat memerankannya? Kenapa susah?

"Semua pekerjaan punya kesulitan batin dan fisiknya masing-masing, kalau yang baru itu pas film The Gift, karena ada adegan yang memerlukan aku untuk berada di dalam air 12 jam, kalau pun keluar 10 sampai 15 menit lagi istirahat, habis itu nyelam lagi, dan aku tuh nggak pernah merencanakan diving selama hidupku. Aku di peran ini bukan jadi diver, tapi aku butuh alat-alat diver untuk menyelesaikan scene itu. Padahal aku punya trauma tersendiri dengan kedalaman, i was struggling a lot di dalam air karena produksinya lama, dan ada hal yang nggak bisa dipaksain sama badanku sendiri. Misalnya aku mau menyelesaikan akting itu secepatnya, tapi semakin pengin cepat selesai,  badanku semakin menolak,  badan tuh kayak nolak, di bawah tuh menggigil dan nggak bisa ngapa-ngapain sama sekali. Kemaren tuh sempet merasa bebannya banyak banget karena harus pakai baju yang nggak mudah untuk di dalam air, malahan aku harus lepas regulator dan masker, tapi harus tetap akting. Jadi tiga hari sebelumnya aku harus latihan terus. Aku pernah pemotretan underwater, tapi itu jauh jauh lebih mudah daripada film. Aku nyelam di kolam renang 3,5  - 5 meter. Dan aku bener-bener ada di dasar for a long time. Aku bengek ngebayanginnya karena baru selesai banget, jadi kemarin tuh benar-benar capek banget. Tapi di sisi lain aku harus selesai hari ini. Kalau nggak aku ngerepotin orang banyak. Tapi menyenangkan dan lega banget ketika selesai karena, melawan phobia itu susah dan memang harus push diri sendiri. Makanya setiap project punya kesulitan masing-masing, dari kecil sampe besar. Tantangannya itu harus diselesaikan on time. Karena another project awaits."

3. Kalau ditawarin diving kamu mau nggak?

"So far sih temen banyak banget yang ngajakin diving, tapi belum ada yang berhasil mengajak."

4. Hal apa yang nggak disukai sebagai public figure?

"These days, aku sebel sama orang yang tiba-tiba Instagram Story tanpa bilang sama kita. I mean like, emang dipikirnya kita nggak tau ya? Aku akan jauh lebih menghargai kalau orang itu izin kalau mau foto. Karena nggak nyaman, kayak di kebun binatang, terus aku adalah salah satu yang mau mereka lihat di dalamnya. Terus main post aja. Sementara aku nggak lagi kerja, kan every body can use their cellphone, kadang orang tuh jadi lebih berani untuk tidak menghargai privasi orang."

Ayushita dan Trauma Terbesar yang Harus Ia Kendalikan

5. Apakah berencana untuk tetap di industri ini, atau suatu saat pengin pindah ke pekerjaan lain? Kalau iya, jadi apa?

"Absolutely will stay. Coz i’ve been doing this like the whole life of mine. Dari umur tiga tahun terus mikirnya cuma hobi, dan akhirnya aku sadar oh ya ini profesi aku. Sampai akhirnya aku beranya denganku sendiri, mau ngapain lagi ya kalau misalkan aku nggak kayak gini? Cuma kalau untuk bisnis selain showbiz gitu, aku sudah punya restoran dari tahun 2006, dan masih banyak hal yang masih mau aku coba. Tapi pekerjaan utamanya tetap aktor."

6. Berarti kamu memang suka berbisnis ya?

"Suka bisnis, karena background ku pas kuliah ambilnya Performing Arts Communication di London School, lalu sempat tidak meneruskan S2 karena udah kangen banget syuting. Cuma pelajaran yang aku dapet tuh jauh dari sekedar Performing Arts it self. Jadi aku bisa pelajari bagaimana the bussines behind the stage atau dari segala aspek bisnis, mulai dari marketing, hingga public relation. Maka bisnisnya masih bisa dijamah, jadi lebih mempraktekan apa yang sudah dipelajari aja sih. Mau dimanfaatkan sebaik-baiknya."

7. Ada nggak pengalaman seru saat syuting film Berangkat?

"Jadi, pas aku nanjak ke Ijen. Nunggu  jam 1 pagi baru kita bisa naik ke gunungnya. Estimasi sampai di kawah Ijen,  jam 5 pagi supaya bisa lihat sunrise dan blue fire. Nah tiba-tiba badai tuh,  akhirnya kita bingung mau stay di mana, karena malem sebelumnya di pantai Gatra, Malang, kita kemah di sana dan anginnya kenceng banget, apalagi kalau pasang, airnya bisa sedada. Akhirnya di Ijen terulang kembali, karena kita ketemu badai lagi, karena jarak pandang matanya itu cuma 5-10 meter.  Parah banget, kita tetap naik sesuai arahan brief, aku dan tim harus kasih penambang belerang lewat duluan, karena yang dibawa mereka itu satu orang bisa satu kwintal belerang."

"Ya Allah masak aku ngeluh sih sementara mereka tuh hidupnya kayak gitu, bolak-balik naik turun, kalau masih muda bisa naik tiga kali bolak balik sehari. Terus yang dibawanya tuh nggak lebih dari Rp100 ribu,  jadi bengeknya tuh antara sesak membayangkan hidup mereka dan memang beneran asma. Jadi di tengah-tengah mengeluh tuh aku kayak cut off jangan. Gue harus bisa."

Ayushita dan Trauma Terbesar yang Harus Ia Kendalikan

8. Lalu bagaimana cara Ayushita tetap konsisten dengan semangat yang sekarang sedang on fire?

"Longest you know what you need in life, then you believe it. Alam semesta akan ngebawa ke situ. Dan sesederhana kita embrace dan sadar bahwa itu adalah hadiah dari semesta setelah kita meminta, kalau kita embrace kan kita akan ngerasa nggak enak nih kalau nggak dijalanin. Yaudah nanti akan konsisten."

9. Apa sih pencapaian tertinggi dalam hidup yang pernah kamu raih hingga detik ini?

"Meluangkan untuk keluarga disaat genting. Genting itu disaat lagi sibuk-sibuknya kerja tapi di keluarga aku tuh lagi butuh banget untuk aku be present, itu menurut aku adalah nilai yang jauh lebih besar dari sekedar pencapaian dari bentuk material atau yang lain.  Pencapaian itu ketika aku punya waktu luang terus aku bisa spent a lot of time sama mereka. Terus kayak dua bulan tiga bulan terakhir aku seneng banget setiap kali lagi weekend aku tuh bisa kumpul dengan keluarga besar aku, kayak healing."    

 

BACA JUGA: Cerita Ayushita Soal Lini Lipstik Hingga Rambut Keritingnya