Rasanya pandemi yang terjadi lebih dari dua tahun membuat semua orang merindukan pagelaran yang meriah. Untuk itu, kembali menyapa para beauty enthusiast, BeautyFest Asia 2022 by Popbela akan segera digelar secara offline pada 14,15, 16 Oktober 2022 mendatang.

Bertepatan dengan event tersebut, Popbela juga berkesempatan berbincang dengan Lutesha mengenai stigma beauty standard yang kini menjadi isu sosial di kalangan anak muda. Bintang film Photocopier ini juga memberikan pesan untuk kamu yang kerap melakukan body shaming. 

1. Berbeda dengan dulu, kini banyak orang yang menyuarakan perbedaan dalam definisi kecantikan. Kalau menurut kamu bagaimana melihat hal ini? Setuju atau justru ada pendapat lain?

Sangat setuju, semua orang memiliki selera masing-masing yang berbeda. Sehingga definisi kecantikan bisa menjadi luas dan beragam tanpa mengikuti standar kecantikan yang memiliki stereotip tertentu. 

2. Pernah nggak kamu merasa tidak cantik? Jika pernah itu kapan dan bagaimana cara mengatasinya?

Pernah. Tidak perlu diatasi, kadang-kadang kita hanya perlu menerima bahwa tidak setiap hari kita perlu tampil cantik dan sempurna. Some days you feel pretty with your stilettos and dress, but some days, you’re bare-faced wearing your pajamas.

Lutesha Bicara Soal Body Shaming: Fokus Dulu ke Diri Sendiri!popbela.com/Andre Wiredja

Korset top Natalia Kiantoro, rok, aksesori, gloves, dan sepatu pump milik stylist

3. Menurut kamu, seseorang akan terlihat sangat menarik ketika melakukan apa?

Ketika mereka memiliki silent confidence. Seseorang yang tidak perlu berteriak nyaring bahwa dirinya percaya diri. Kita bisa melihat auranya terpancar dari body language, cara bertutur kata, cara berbusana dan ketenangan diri yang dibawakan.

4. Maraknya body shaming tentu memengaruhi mental seseorang. Kira-kira ada pesan yang ingin sampaikan untuk orang yang kerap melakukan body shaming tersebut? dan untuk yang mengalami body shaming, ada nggak kata-kata penyemangat buat mereka?

Rata-rata orang melakukan body shaming didasari rasa iri karena beauty standard yang ideal bagi mereka sungguh mustahil untuk mereka capai. Jadi daripada mengeluarkan energi untuk menghakimi seseorang, lebih baik fokus ke diri sendiri dulu. Sama seperti orang yang sering mengalami body shaming, tidak usah hiraukan pendapat orang lain dan fokus aja terhadap diri sendiri. Karena yang tau kapabilitas badan sendiri itu kamu, bukan orang lain

Lutesha Bicara Soal Body Shaming: Fokus Dulu ke Diri Sendiri!popbela.com/Andre Wiredja

Korset top Natalia Kiantoro, rok, aksesori, gloves, dan sepatu pump milik stylist

5. Adanya standar kecantikan membuat banyak perempuan mencoba untuk jadi orang lain. Dari kamu, ada pesan untuk orang-orang yang mencoba fit in di standar kecantikan itu?

Standar kecantikan setiap dekade akan terus berubah. Jadi buat apa buang-buang waktu berusaha fit in ke dalam satu tren yang sepuluh tahun lagi akan berubah? Lagi pula apa serunya memiliki rupa yang seragam dengan berjuta-juta orang yang lain.

Photographer: Andre Wiredja

Fashion Editor: Michael Richards

Stylist: tbmyudi

Asst. Stylist: Hafidhza Putri Andiza

Beauty Editor: Jennifer Alexis

Makeup Artist: Salya Benaza

Hair Stylist: Puja

Interview: Shavira

Baca Juga: Berani Tampil Unik, Intip 9 Inspirasi Makeup a la Lutesha

Baca Juga: Pesan Rachel Amanda Tentang Beauty Standard & Inklusivitas

Baca Juga: Christie Basil: Beauty Standards untuk Inspirasi Positif? Why Not?!